Siapa sih orang Indonesia yang enggak tahu ibukota kita tercinta ini, iya betul sekali, itulah JAKARTA. Konon katanya, kota Jakarta itu kota metropolitan sekaligus kota yang dinobatkan jadi kota paling macet di dunia. Masak sih? Yup, that's absolutely right. Kenyataannya memang seperti itu. Jalanan di ibukota, macetnya minta ampun, apalagi kalau udah jam sibuk. Lantas gimana cara mengatasi kemacetan yang semakin menggila ini, sodara-sodara? Mungkin ini bisa jadi solusinya. Let's check these out!
Teknologi semakin maju ni, lulusan muda di bidang IT juga udah banyak, alangkah baiknya kalau kepolisian lalu lintas bekerjasama dengan universitas/mahasiswa/perusahaan start-up untuk menciptakan aplikasi navigasi yang bisa digunakan seluruh warga Jakarta yang hendak bepergian dengan kendaraan pribadi maupun umum. Aplikasi ini dirancang untuk mengetahui jalur alternatif sekaligus memantau arus lalu lintas, sehingga mereka bisa memilih jalur serta menghindari daerah yang mengalami kemacetan. Lebih baik lagi kalau informasi yang bermanfaat ini bisa diakses dengan mudah oleh warga Jakarta, info ini juga bisa disebarluaskan lewat surat kabar, radio, televisi, media sosial atau yang lainnya. Nah, solusi yang satu ini bisa langsung menyelesaikan dua masalah kan. Satu, mengurai kemacetan Jakarta. Dua, mengatasi pengangguran dengan memberdayakan anak bangsa yang punya kemampuan di bidang IT. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, bukan?
Yang kedua, pihak kepolisian bekerjasama dengan dinas terkait untuk mengadakan ataupun memperbaiki sarana transportasi umum menjadi lebih nyaman, aman, cepat, dan tentu saja murah bagi warga Jakarta yang mobilitasnya tinggi. Dengan pengadaan dan perbaikan tersebut, diharapkan masyarakat lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum daripada menggunakan kendaraan pribadi. Salah satu moda transportasi yang bisa dikembangkan adalah kereta api dan bus yang terintegrasi. Jadi warga Jakarta tidak perlu pusing-pusing lagi, harus ke terminal sana lah, ke stasiun sini lah, nyari halte bus seberang sana lah. Mereka cukup datang ke suatu terminal yang menjadi pusat pertemuan semua jenis transportasi, karena semuanya sudah diintegrasikan, hal ini akan lebih memudahkan warga Jakarta untuk berpindah-pindah serta beraktivitas. Coba kita tengok bagaimana kondisi transportasi umum di Jakarta! Jumlahnya sudah terlalu banyak, enggak terawat pula. Ditambah dengan sopirnya yang ugal-ugalan, ini mungkin jadi salah satu faktor kenapa kemacetan di Jakarta semakin meningkat. Banyak angkot yang ngetem sembarangan, tambah macet lah jalanan Jakarta. Untuk itu, dalam menyeleksi sopir dan awaknya, enggak boleh sembarangan, harus lebih selektif dan kalau perlu diberi training tentang keselamatan dan ketertiban lalu lintas secara berkala.
Selanjutnya ni, jangan malu lah untuk mencontoh negara lain yang sukses dalam mengatasi kemacetan di negaranya. Kita tengok dulu tetangga kita, Malaysia, yang memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Putrajaya. Inisiatif yang satu ini layak dicoba lho di Indonesia. Lalu, mereka menerapkan "smart way", bener-bener smart kan. "Smart way" adalah terowongan bawah tanah yang berfungsi sebagai jalan bebas hambatan dan pengendali banjir. Tapi, untuk menerapkannya di Indonesia atau Jakarta, kita perlu melakukan penelitian terlebih dahulu apakah kondisi tanah dan lain sebagainya stabil atau tidak. Malaysia juga membangun jembatan antar gedung dan pedestrian yang layak bagi masyarakatnya. Semoga solusi ini bisa dipertimbangkan deh.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, beda Malaysia, beda pula Jepang dalam mengatasi masalah yang satu ini. Gimana ya caranya negeri sakura ini mengatasi kemacetan? Yuk dilihat dulu yuk! Jepang benar-benar berusaha untuk mengontrol peningkatan volume kendaraan yang ada di sana. Mereka membatasi tingkat emisi pada setiap kendaraan yang mempunyai batas masa berlakunya. Uji emisi ini, bisa menghabiskan biaya yang tidak sedikit alias mahalnya minta ampun. Selanjutnya, Jepang menetapkan pajak kendaraan yang tinggi juga, jadi semakin tua umur kendaraan, semakin tinggi pula pajaknya. Lalu apalagi ya? Mereka juga menetapkan parkir kendaraan yang mahal. Biaya parkir per bulan di apartemen bisa habis sampai 3 juta rupiah per bulan. Busyet dah!! Uang segitu mending buat makan yak, daripada buat bayar parkir doang. Biaya uji emisi mahal. Pajak kendaraan mahal. Biaya parkir mahal. Ternyata enggak hanya itu lho. Biaya tolnya juga mahal. Lewat satu gerbang tol aja, udah ngabisin duit 100 ribu rupiah, sodara-sodara! Superb sekali! Nah, ini ni, jurus pamungkasnya, sarana transportasi umum yang baik. Jelas lah, negara Jepang memang terkenal sebagai negara maju di bidang teknologi. Mereka menciptakan transportasi yang supercepat, modern, sekaligus canggih. Kita patut belajar dari Jepang, walaupun mereka negara produsen, tetapi mereka tidak konsumtif. Jadi, gak heran kalau masyarakat Jepang lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum daripada punya kendaraan pribadi. Kenapa coba? Karena merek punya transportasi umum yang baik. Mereka punya transportasi umum yang nyaman, murah, informatif, teratur, dan tentu saja on time alias tepat waktu, karena memang seperti itulah masyarakat Jepang, tidak pernah ngaret, disiplin, dan dinamis.
Pada akhirnya, untuk mengatasi kemacetan di Jakarta ataupun di kota-kota besar di seluruh Indonesia, harus melibatkan banyak pihak untuk mengurangi bahkan mungkin meniadakan kemacetan. Karena persoalan ini merupakan tanggung jawab kita bersama, tidak hanya tanggung jawab kepolisian lalu lintas. Saya berharap dengan kemajuan teknologi, kerjasama yang baik dari berbagai pihak, serta peningkatan kinerja dan manajemen lalu lintas dari kepolisian, kemacetan yang sudah lama terjadi di Jakarta dapat segera diatasi.
TETAP SEMANGAT PAK/BU POLISI ! :D
Referensi:
http://klikmenarik.blogspot.co.id/2012/06/jepang-ajari-indonesia-cara-mengatasi.html
https://motorek.wordpress.com/2012/06/08/inilah-cara-singapura-mengatasi-kemacetan/
http://sumatracyber.blogspot.co.id/2014/06/inilah-cara-jitu-5-negara-dalam.html
http://j-cul.com/inilah-cara-jepang-mengatasi-kemacetan-lalu-lintas/
http://uty.ac.id/2014/07/kerja-cerdas-malaysia-dalam-mengurai-macet/