Pages

Minggu, 01 November 2015

MANFAAT YOGURT HEAVENLY BLUSH UNTUK KESEHATAN



Di zaman yang modern ini, siapa yang tidak kenal dengan yogurt? Pasti, kenal kan semuanya? Yogurt adalah hasil fermentasi dari susu dengan Bakteri Asam Laktat. Heavenly Blush Yogurt Drink To Go adalah salah satu merk yogurt di Indonesia. Manfaat yogurt bagi kesehatan sangat lah banyak. Di antaranya, melancarkan pencernaan dan memberikan tambahan asupan nutrisi yang dibutuhkan bagi ibu hamil maupun janinnya, inilah manfaat yogurt untuk ibu hamil. Selain itu, ibu hamil tidak perlu khawatir akan rasa asamnya karena Heavenly Blush merupakan yogurt yang aman untuk ibu hamil. Selain bermanfaat untuk ibu hamil, Heavenly Blush adalah yogurt yang baik untuk diet. Tak hanya menjadi merk yogurt yang paling bagus, Heavenly Blush, juga menjadi merk yogurt terkenal, karena banyak orang yang menyukainya. Dengan teknologi yang semakin canggih, Heavenly Blush memberikan inovasi kepada pencinta yogurt dengan menjadikannya yogurt aneka rasa, jadi kamu dijamin enggak bakalan bosan mengkonsumsi yogurt yang satu ini.  

Heavenly Blush mengandung segala kebaikan susu seperti mineral, kalsium, vitamin, zinc, dan asam betahidroksi, ditambah lagi dengan manfaat dari bakteri baik hasil dari fermentasi tersebut. Karena yogurt lebih mudah dicerna daripada susu, tak ada alasan lagi bagi penderita lactose intolerance untuk tidak mendapat asupan kalsium.


Siapa bilang semua yogurt itu asamnya minta ampun. Kamu bisa mengkonsumsi yogurt Heavenly Blush yang rasa asamnya enggak berlebihan, sekaligus dengan rasa yang enak. Kenapa bisa ya? Karena Heavenly Blush dibuat dari hasil fermentasi dengan bakteri generasi terbaru sehingga menghasilkan yogurt yang asamnya pas dan rasanya enak.


Banyak orang yang takut sakit perut atau maag lantaran minum yogurt. Dan itu hanyalah mitos belaka! Yogurt sama sekali tidak menyebabkan sakit maag, sebaliknya yogurt dapat menjadi terapi yang baik untuk penderita maag, karena yogurt yang bagus punya kandungan bakteri yang bagus pula.


Untuk kamu-kamu yang punya masalah kulit, yogurt bisa jadi solusinya lho. Kenapa? Karena khasiat yogurt yang mengandung zinc sangat baik untuk mencegah timbulnya jerawat, bahkan bisa membuat luka lebih cepat kering termasuk masalah jerawat tadi. Selain itu, kandungan asam beta hidroksinya bisa membuat kulit jadi lebih cerah, lembut, serta kenyal. Mau kulit sehat? Minum Heavenly Blush secara rutin lah!


Nah, untuk kaum hawa yang ingin membentuk tubuh yang ideal, enggak ada salahnya untuk menyertakan Heavenly Blush dalam menu makananmu. Karena Heavenly Blush adalah yogurt yang bagus untuk diet yang dibuat dari susu rendah lemak dan rendah gula. Heavenly Blush sangat pas untuk mendukung gaya hidup wanita aktif agar tak hanya mendapatkan penampilan yang cantik, tetapi juga mempunyai kulit yang sehat dan juga tubuh yang ideal yang selalu didambakan setiap wanita di muka bumi.


Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, tak diragukan lagi, semua orang menginginkan kepraktisan. Itu pula yang dilakukan Heavenly Blush yang menciptakan inovasi baru yaitu menjadi produk minuman yogurt terbaik di Indonesia yang dapat dinikmati dimana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apapun. Heavenly Blush berbeda dengan minuman yogurt yang lain, karena tidak mudah rusak meski tidak disimpan di dalam kulkas. Ditambah lagi, Heavenly Blush hadir dalam kemasan tetrapack 200 ml yang dibuat  dengan proses UHT dan dikemas secara aseptis menjadikannya minuman menyehatkan yang tahan lama meskipun dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet.


Dapatkan manfaat susu dalam kesegaran dan kenikmatan yogurt strawberry, peach, dan blackcurrant yang rendah lemak serta tinggi kalsium dalam Heavenly Blush. Selain itu, Heavenly Blush merupakan yogurt yang mengandung prebiotik seperti Inulin dan GOS yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan, menurunkan kolesterol, menstabilkan gula darah, dan tekanan darah. Nikmati kesegaran dalam Heavenly Blush Yogurt Drink To Go setiap hari dengan harga yang terjangkau dan bisa didapatkan di seluruh Indonesia. Dan, jadikan hidupmu lebih sehat!




Rabu, 14 Oktober 2015

ACEH DAN MEREKA

Bumi nusantara telah banyak mengalami tragedi yang memilukan sepanjang dekade terakhir ini. Mungkin, masih tampak lekat dalam ingatan kita, peristiwa mahadahsyat yang menimpa saudara kita di wilayah barat Indonesia, yang terjadi hampir 11 tahun yang lalu. Gempa bumi dan tsunami telah memporak-porandakan serambi Mekah, Aceh, di hari Minggu pagi, 26 Desember 20004. Gempa bumi tersebut terjadi kurang lebih pada pukul 8:00 WIB. Pusat gempa terletak kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 km. Gempa ini berkekuatan 9,3 Skala Richter. Tak hanya guncangan yang dihasilkannya begitu dahsyat, tetapi juga merupakan gempa yang terlama, kurang lebih selama 10 menit. Kemudian, gempa ini disusul dengan tsunami besar, setinggi 9 meter.

Tak terbilang banyaknya korban jiwa yang ditelan dan bangunan yang hancur lebur akibat bencana besar ini. Gempa bumi ini tercatat tak hanya menghantam Aceh, tetapi juga melanda Pantai Timur India, Srilanka, Thailand, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, dan Pantai Timur Afrika. Bisa dikatakan ini merupakan tragedi dunia.

Bencana alam ini, tentu saja menjadi sebuah magnet bagi orang-orang di seluruh dunia. Mereka, para korban, membutuhkan pertolongan yang tidak sedikit. Mereka tak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga keluarga dan kerabat, dan mungkin ini menjadi kesedihan yang paling sulit untuk dipulihkan, yaitu kehilangan sanak saudara. Melihat keadaan yang seperti itu, berbondong-bondong lah organisasi kemanusiaan dan pemerintah untuk membantu mereka yang terkena nestapa.

ICRC #70thICRCid mempunyai kantor di Banda Aceh, sehingga ICRC yang bekerja sama dengan PMI dapat langsung membantu masyarakat Aceh pasca terjadinya musibah tersebut. Para relawan Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional menyalurkan 1000 terpal dan perlengkapan rumah tangga untuk para pengungsi.

Berbagai kegiatan dan bantuan dari ICRC mengalir dalam musibah Aceh ini. ICRC memberikan bantuan makanan dan non-makanan serta tempat tinggal bagi pengungsi. Mereka melakukan pengamatan ke penampungan-penampungan di Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Bireuen, Lhokseumawe, dan Kabupaten Aceh Besar. Pengamatan ini dilanjutkan dengan penyaluran bantuan tersebut. ICRC bekerja sama dengan PMI memberikan bantuan non-pangan kepada 24.462 rumah tangga. Mereka juga menyalurkan bantuan makanan kepada 11.086 rumah tangga.       

Tak hanya itu, ICRC menyediakan berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban kepada relawan-relawan PMI, antara lain: kantong mayat, masker, sarung tangan, sepatu karet, sekop, pakaian pelindung, helm, alat penerangan, dan terpal plastik. Dalam evakuasi tersebut, PMI bergotong-royong dengan TNI, POLRI, dan SAR. Mereka mengevakuasi lebih dari 20.000 jenazah di kota Banda Aceh.

Selain memberikan bantuan makanan, non-makanan, dan peralatan evakusi, ICRC juga bekerja sama dengan pakar medis. Mereka melakukan pemantauan terhadap rumah sakit yang masih tersisa di Banda Aceh dan fasilitas kesehatan di tempat pengungsian. Mereka juga memberikan pasokan medis apabila dibutuhkan, seperti: sarung tangan bedah, bahan untuk membebat, bahan-bahan benang bedah, bahan-bahan untuk pengobatan patah tulang, paket peralatan dasar untuk apotek, paket obat-obatan dasar untuk apotek, antibiotik, suntikan analgesik, desinfektan, berbagai obat-obatan, dan peralatan medis. Palang Merah Norwegia juga memberikan bantuan berupa 100 tempat tidur yang diperuntukkan bagi rumah sakit lapangan di Banda Aceh.

Dalam bencana alam yang besar tersebut, tentunya para pengungsi mengalami krisis air bersih. Oleh karena itu, para pakar air dan sanitasi dari ICRC melakukan penilaian atas akses terhadap air bersih dan kondisi sanitasi pengungsi. Mereka menyediakan air bersih dan fasilitas sanitasi.

Yang paling penting dari keseluruhan kegiatan ICRC dalam mengatsi musibah Aceh ini adalah bagaimana organisasi kemanusiaan ini dapat memulihkan hubungan antara korban gempa dan tsunami Aceh dengan keluarga mereka. Dalam kegiatan ini, ICRC bekerja sama dengan PMI, menggunakan banyak sarana seperti pertukaran Berita Palang Merah, penggunaan formulir “Saya Selamat” dan “Saya Mencari”, penggunaan telepon satelit, membantu anak-anak tanpa pendamping dan mempublikasikan nama mereka di media-media, serta penggunaan website ICRC www.familylinks.org.

Berikut adalah video wawancara bersama Markus Dolder - wakil kepala ICRC delegasi Indonesia pada tahun 2002-2005 - tentang situasi Aceh setelah bencana Tsunami terjadi.



Walaupun sudah lebih dari 10 tahun bencana Aceh terjadi, masih banyak yang memberikan bantuan terhadap mereka, terutama anak-anak yatim korban gempa bumi dan tsunami Aceh. Salah satu perhatian yang diberikan kepada mereka datang dari Organisasi Konferensi Islam bersama dengan PKPU. Mereka memberikan 1250 paket perlengkapan sekolah di kota Banda Aceh, Kabupaten Sabang, dan Kabupaten Aceh Besar melalui Orphan Kafala Program. Secara khusus, program ini memang diperuntukkan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana. Selain paket perlengkapan sekolah, anak-anak yatim juga mengikuti training dan educational program, health and care, serta pembinaan secara langsung.

Dari musibah yang terjadi di Aceh 10 tahun yang lalu, banyak yang dapat kita jadikan pelajaran. Salah satunya, kita sebagai makhluk sosial sekaligus beragama. Tak dapat dipungkiri, kita tidak bisa bertahan di dunia ini sendirian. Dan, salah satu momen yang bisa menyadarkan kita akan hal tersebut adalah kita atau orang lain tertimpa suatu bencana atau musibah. Maka, lahirlah rasa kasih sayang dan kepedulian itu. Tanpa memandang perbedaan. Bukankah kita tidak akan bertanya terlebih dahulu apa latar belakang atau agama orang yang sedang terkena musibah, sebelum kita memberikan pertolongan kepadanya? Bukankah kita tidak akan bertanya terlebih dahulu apa latar belakang atau agama orang yang benar-benar sedang membutuhkan donor darah, sebelum memberikan darah kita kepadanya? Itulah kekuatan kasih sayang.

Sumber:
Blogs.icrc.org
Tribunnews.com
Kompasiana.com
Youtube.com

Jumat, 09 Oktober 2015

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Hari Pangan Sedunia 2015
Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia.

Berbicara tentang hari pangan sedunia, kita lihat dulu sejarah singkatnya. Food and Agriculture Organization (FAO) menetapkan World Food Day melalui Resolusi PBB No. 1/1979 di Roma Italia. Hari pangan sedunia diperingati pada tanggal 16 Oktober yang juga merupakan hari lahirnya FAO. Sejak tahun 1981, seluruh negara anggota FAO termasuk Indonesia memperingati Hari Pangan Sedunia secara nasional. Hari Pangan Sedunia dijadikan momentum bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan pemahaman serta kepedulian terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Hari pangan sedunia dapat pula disandingkan dengan petani. Petani lah yang menghasilkan serta menyediakan pangan bagi kita, setiap harinya. Tak ada petani, maka tak ada pangan. Bisa kalian bayangkan bukan, betapa pentingnya peran petani-petani kita?

Coba bayangkan sejenak, jika kita tak punya bapak/ibu petani. Bagaimana nasib negara kita? Negara yang sebesar ini? Negara yang punya lebih dari 200 juta jiwa ini? Bagaimana cara kita untuk memenuhi kebutuhan pangannya, jika kita tak punya petani? Apakah kita akan terus-menerus mengimpor bahan pangan? Apakah kita hanya akan menghabiskan anggaran negara hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan kita saja? Jawabannya hanya diri kita sendiri yang tahu, sebagai warga Negara Indonesia.  

Bila kita mau menengok sebentar saja ke masa lalu negara kita, Indonesia pernah menjadi negara agraris dan maritim yang mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional, bahkan mengekspornya. Indonesia diberkahi dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sawah, hutan, lautan, Indonesia punya semua itu. Kita juga punya petani-petani yang luar biasa. Dengan diperingati hari pangan sedunia, saya berharap, Indonesia bisa bangkit lagi dan menjadi negara agraris dan maritim seperti dulu. Indonesia bisa menjadi “Macan Asia”, atau bahkan “Macan Dunia”.   

Kenyataannya, untuk saat ini, produksi pangan nasional semakin menurun, dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan penduduknya. Apa yang terjadi? Mau tak mau, kita harus mengimpor bahan pangan. Impor bahan pangan sama saja dengan mengeluarkan anggaran yang lebih besar lagi, sedangkan pangan merupakan kebutuhan pokok. Ini artinya, semakin besar kita mengimpor bahan pangan, semakin tergantung pula kita kepada negara asing. Ketergantungan kepada negara asing akan menjauhkan kita dari impian sebagai negara yang berdaulat dan mandiri.  

Produksi pangan nasional pasti berhubungan erat dengan pangan dan gizi suatu bangsa. Pangan dan gizi yang baik dan bermutu bisa menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju. Kenapa? Karena dengan ketersediaan dua hal tersebut akan menghasilkan tunas-tunas bangsa yang unggul.  

Nah, untuk itulah mari kita memberi dukungan dan apresiasi kepada petani-petani Indonesia. Petanipejuang pangan dan gizi bangsaku, sebutan itu layak bagi mereka, karena mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyediakan kebutuhan pangan bangsa ini. Selain itu, secara tidak langsung, mereka juga peduli terhadap asupan gizi anak-anak Indonesia yang kelak menjadi pelita bangsa ini. Jika hal ini dipikirkan lebih jauh lagi, betapa mulianya peran petani-petani Indonesia.

Bisakah kalian bayangkan, hidup di dunia ini tanpa makan dan minum? Itu sama halnya dengan Indonesia tanpa petani, karena petani hidup dan mati bangsaku. Tanpa mereka, kita tidak akan bisa bertahan. Tanpa mereka, kita tidak akan bersaing dan maju. Tanpa mereka, generasi muda Indonesia tidak akan bertumbuh dan berkembang.

Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana rumitnya proses sebutir nasi yang kita makan setiap harinya berada di piring kita? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana susahnya dalam merawat buah-buahan dan sayur-sayuran hingga sampai di meja makan kita? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana sulitnya membesarkan ternak untuk kita nikmati daging dan susunya? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana lelahnya menjaring atau menangkap ikan serta kroni-kroninya? Mungkin hanya petani yang tahu bagaimana sulitnya proses-proses tersebut. Mereka belajar bersabar. Menunggu hingga masa panen tiba. Menunggu hingga cukup besar ternak-ternaknya. Menunggu waktu yang tepat untuk melaut. Dan, dari semua proses melelahkan itu, mereka hanya meyakini satu, memberikan bahan pangan yang terbaik untuk bangsa tercinta. Untuk itulah, mereka sangat pantas diberi kehormatan sebagai petani tulangpunggung pangan dan gizi bangsaku.

Kamis, 08 Oktober 2015

Corat-Coret Academic Writing

SYMBOLISM IN THE SCARLET LETTER BY NATHANIEL HAWTHORNE
Ummu Rahmahwati

Abstract

In this paper, entitled “Symbolism in The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne”, the writer would like to discuss the symbolism of the novel. The purpose of this writing is to analyze the symbolism of the novel. The writer uses symbolism theory and close reading method. The novel consists of symbolism, character, setting, theme, point of view, plot, etc. The most interesting aspect in this novel is symbolism.

Keywords: symbolism, novel.

Abstrak

Dalam makalah yang berjudul “Symbolism in The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne”, penulis ingin membahas tentang simbol dalam novel tersebut. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis simbol yang ada dalam novel. Penulis menggunakan teori simbol dan metode membaca cermat. Novel terdiri atas simbol, karakter, seting, tema, sudut pandang, alur, dan lain-lain. Aspek yang paling menarik dalam novel ini adalah simbol.

Kata kunci: simbolisme, novel

Belajar Menerjemahkan

Tuhan, Aku Cinta Padamu

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan
wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

WS Rendra

God, I love You

I was limp
But powerful
I do not feel pain
or irritate

I want to eat soup
I never feel short-winded
But my body was not satisfied
to have the ideal position and
natural

I want to clean my body up
from the chemical poison

I want to go back to the natural way
I want to increase the devotion
to God

God, I love You

Translated by: Ummu Rahmahwati

Salah Satu Bab - History of English Language

85. Penggunaan Bahasa Prancis oleh Kalangan Atas

Berapapun jumlah orang Norman yang menghuni Inggris, sangat jelas bahwa anggota golongan yang berkuasa baru cukup berkuasa untuk terus menggunakan bahasa mereka sendiri. Ini merupakan hal yang biasa, karena mereka tidak tahu bahasa Inggris; mereka mempelajarinya secara bertahap tetapi tidak berusaha dalam politik. Dua ratus tahun setelah Penaklukan Norman, bahasa Prancis tetap digunakan dalam pergaulan kalangan atas di Inggris. Awalnya mereka yang menggunakan bahasa Prancis adalah orang-orang Norman asli, tetapi kemudian melalui perkawinan campuran dan asosiasi dengan golongan yang berkuasa orang-orang keturunan Inggris harus mempergunakan kesempatan mereka untuk mempelajari bahasa baru, sebelum muncul banyak perbedaan antara mereka yang berbahasa Prancis dan yang berbahasa Inggris tak hanya suku tetapi sebagian besar masyarakat. Bahasa rakyat tetap bahasa Inggris. Situasi menjadi baik, sekitar tahun 1300, penulis sejarah yang dikenal Robert dari Gloucester.
Sebuah persamaan yang mengandung pelajaran ke dalam karakter dua bahasa di Inggris pada periode ini dilengkapi dengan contoh bahasa Belgia saat ini. Dalam tulisan ini terdapat bahasa Flemish dan Prancis (Walloon) yang digunakan secara bersamaan. Meskipun penggunaan dua bahasa ini sedikit berhubungan dengan kondisi geografi hal ini juga untuk beberapa tingkatan yang bergantung pada kedudukan sosial dan kebudayaan. Bahasa Prancis sering digunakan oleh kalangan atas, di daerah Flemish sekalipun. Perlu diperhatikan bahwa kefasihan dalam berbahasa Prancis menjadi kurang umum di utara, terutama untuk generasi muda.

86. Keadaan yang Mengangkat kembali Penggunaan Bahasa Prancis

Faktor terpenting dalam penggunaan bahasa Prancis kembali oleh kalangan atas Inggris sampai awal abad ke-13 adalah hubungan akrab yang terus berlangsung pada tahun-tahun ini antara Inggris dan Eropa. Dari waktu Penaklukan raja-raja Inggris juga merupakan dukes Normandia. Pada akhir hidupnya William Sang Penakluk terlihat lebih dekat dengan dukedomnya daripada dengan negara yang dipimpinnya. Tak hanya dimakamkan di sana, tetapi dalam pembagian warisannya dia menyerahkan Normandia kepada anak pertamanya dan Inggris kepada William, anak keduanya. Kemudian dua daerah ini bersatu kembali di tangan Henry I. Pada pencapaian Henry II, tanah Inggris di Prancis masih diperluas lagi. Henry, pangeran Anjou, diwarisi ayahnya daerah kekuasaan Anjou dan Maine. Dengan menikahi Eleanor dari Aquitaine dia memiliki tanah yang luas di selatan sehingga ketika menjadi raja Inggris dia menguasai 2/3 Prancis.
Dalam keadaan itu bukan hal yang mengherankan perhatian bangsa Inggris tertuju pada masalah-masalah yang terjadi di Prancis. Memang, raja-raja Inggris sering menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sana. William dan anak-anaknya berada di Prancis kira-kira separuh dari pemerintahan mereka masing-masing. Tak ada raja Inggris sampai pada Edward IV (1461-1483) mencari istri di Inggris, kaecuali Henry I, dan ini merupakan hal yang biasa dalam meneruskan penggunaan bahasa Prancis di istana Inggris.
Kaum bangsawan Inggris tak sepenuhnya seorang bangsawan di Inggris sebagai seorang aristokrasi Anglo-Prancis. Hampir semua tuan tanah Inggris mempunyai tanah di Eropa, seringkali nikah kontrak, dan menghabiskan banyak waktu di Prancis. Banyak peristiwa ketika raja dan bangsawannya bertunangan dalam operasi militer dan hal ini terus berlangsung untuk mempertahankan penggunaan bahasa Prancis.

87. Sikap terhadap Bahasa Inggris

Pendapat bahwa para pendatang tidak menyukai bahasa Inggris tidak mempunyai dasar. Hal ini memang benar bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang tak tertata, bahasa orang bawahan, dan seorang uskup seperti Wulfstan mendapat penghinaan dari bangsa Norman, karena ketidaktahuannya akan semboyan masyarakat. Henry dalam pernyataan Huntington bahwa hal yang memalukan untuk disebut seorang pria Inggris merupakan pernyataan retoris yang berlebihan. Hal ini tak masuk akal untuk mengharapkan orang-orang yang dijajah tak merasakan kebencian atau bangsa Norman tak pernah angkuh atau suka menguasai. Tetapi ada juga banyak bukti saling menghargai dan kerjasama yang baik, tak masalah ada perkawinan campuran, antara bangsa Norman dan Inggris. Penulis kronik Orderic Vitalis, adalah putra dari seorang ayah berbangsa Norman dan seorang ibu berbangsa Inggris, meskipun faktanya dia menghabiskan hidupnya dari umur 10 tahun di Normandia, selalu menunjukkan pada dirinya sebagai seorang pria Inggris.
Menurut penulis kronik yang sama William Sang Penakluk berusaha untuk mempelajari bahasa Inggris pada usia 43 tahun. Tak ada yang mustahil dalam pernyataan. Tentu saja tuntutan seorang penulis abad ke-14 bahwa sang Penakluk memikirkan bagaimana menghapus bahasa “Saxon” agar bangsa Inggris dan Prancis berbicara dengan bahasa yang sama. Anak termudanya, Henry I, mengetahui beberapa bahasa Inggris. Jika raja-raja terdahulu terlihat tidak mengetahui bahasa, rendahnya pengetahuan mereka tidak dihubungkan pada tujuan tertentu. Pada periode penting—periode 1200 ke atas—sikap raja dan golongan atas terhadap bahasa Inggris digolongkan sebagai salah satu kelalaian kecil. Mereka tidak memperkuat bahasa Inggris karena kegiatan mereka di Inggris tak mengharuskannya dan perhatian mereka terus tertuju pada persoalan yang berhubungan dengan Eropa membuat bahasa Prancis lebih berguna bagi mereka.

88. Kesusasteraan Prancis di Istana Inggris

Lengkapnya bahasa Prancis di istana Inggris saat ini terlihat jelas dengan dihasilkannya kesusasteraan untuk kerajaan dan perlindungan orang bangsawan. Pada tahun pertama yang mempunyai sedikit alat pertunjukan modern, kesusasteraan memainkan peranan penting dalam kehidupan golongan orang-orang senang. Dan sangat menarik untuk mengetahui bagian kesusasteraan Prancis yang dihasilkan di Inggris dari awal abad ke-12. Kita tak cukup tahu kondisi kesusasteraan pada masa William, meskipun pengakuannya dalam pembelajaran terlihat dalam banyak penetapannya pada kedudukan gereja tinggi. Anak perempuannya Adela adalah pelindung para penyair, dan anak laki-lakinya Henry I, mendapat gelar Beauclerc, yang setidaknya menikah berturut-turut dengan dua ratu yang sangat mendukung para penyair. Istananya merupakan pusat kegiatan kesusasteraan. Philippe de Thaun menulis Bestiary, penggambaran puisi yang agak khayal tentang alam dengan berbagai binatang dan penambahan ke setiap deskripsi moral yang lebih khayal. Geoffrey Gaimar menulis History of the English, dalam sajak berbahasa Prancis, untuk Lady Custance “Ii Gentil”. Pada saat yang sama Samson de Nanteuil menuliskan 1100 baris sajak menjadi Proverbs of Solomon untuk Lady Adelaide de Conde, istri dari baron Lincolnshire. Pada pemerintahan Henry II Wace menulis Roman de Brut dan mempersembahkannya pada ratu, Eleanor dari Aquitaine. Kemudian Wace mengerjakan Roman de Rou untuk menuliskan catatan yang sama dengan dukes Normandia. Karya-karya keagamaan dan pendidikan, kehidupan orang-orang suci, kiasan-kiasan, sejarah-sejarah, dan roman dari Horn, Havelok, Tristan, dan yang lainnya terus bertambah pada abad ke-12. Hal ini menunjukkan dasar yang kuat bahwa kebudayaan Prancis diambil di tanah Inggris yang sangat penting bagian kesusasteraan dalam bahasa Prancis dapat dituliskan atau untuk Inggris, selebihnya berada di bawah perlindungan istana langsung.


War of Independence

It was difficult situation for Britain after Indian war. They had to make a new rule for America. First step that they made was they change the Molasses Act in 1733 into Sugar Act in 1764. This new act made the merchant of New England was angry. In 1764, the parliament put Currency Act into effect. Quartering Act in 1765 also made difficult for the colonies. Stamp Act drove the foremost merchant to rebel and formed non-import association. Trading with the main country was so decreased in the summer of 1765, when “Sons of Liberty” was formed. This act was not considered from Massachusetts to South Caroline. Patrick Henry, the member of Virginia House of Burgesses stated that tax without presentation was a threat for their freedom. In 8 June, Council of Massachusetts invited the colonies to choose the delegation for the Stamp Act Congress in New York that was conducted in October 1765. This congress had purpose to apart from Britain’s power. The results were; there was no tax in constitutionally that was affected to them and Stamp Act inclined to eliminate the right of the colonies.
This situation made the colonies thought that the parliament did not have right to put act for them, and the legislative of the colonies did not have right to agree with the law of Britain too. The parliament did not accept this opinion; however, merchant of England that felt the effect suppressed the parliament. In 1766, the parliament eliminated Stamp Act and modified Sugar Act. Then, the parliament put Declaratory Act.
In 1767, Charles Townshend, Minister of Finance in England, made Townshend Act. It triggered the dissatisfaction of the colonies. In Boston, this regulation made the violence came up. When the official of customs office collected the tax, they were beaten by the mass. It made two regiments of England was sent to protect the official of customs office there. In 5 March 1770, there was disagreement between the citizen and the troops of England. It caused three citizens of Boston dead and called Butchering of Boston. The parliament chose to eliminate Townshend Act.
In 1773, East Indies Company needed Britain to help them in tea trading. Colonial merchants gathered with radicals led by Samuel Adams from Massachusetts to attack that company in harbor along the Atlantic. In Boston, Samuel Adams and his troop were disguised as the Indian Mohawk, entered the three ships of England, and threw the three cargos to the Boston Harbor. It was called Boston Tea Party. The revolutionary people began to make some acts to prepare their opposition to the parliament and Britain that was made the Coercive Act. George III made a step to fight against the colonies.
General Thomas Gage sent his troop to seize ammunitions that was collected by the colony of Massachusetts. In 19 April 1775, that troop was in Lexington and saw the Minutemen. This troop began to shoot the Minutemen, when they heard someone shooting. The result was eight dead and 10 injured. In 10 May 1775, Continental Congress II was held in Philadelphia, Pennsylvania. In 15 May, Congress decided to fight against Britain and chose Colonel George Washington from Virginia as the leader of American’s troop. This conflict triggered John Dickinson to write a petition called Olive Branch Petition. He stated that he asked to the king to prevent the hostility actions until they achieved the agreement. That petition was not accepted and King George III, in 23 August 1775, took a statement that the colonies were in rebellion stage. In early June 1776, warship of England went along the shore to Charleston, South Caroline, and shot the city. However, the people were ready and succeed to chase England away in the end of June.             
In January 1776, Thomas Paine published a pamphlet entitled Common Sense. Through this pamphlet, Paine attacked the monarchy and gave two choices, surrendered to the tyrant or got the freedom as an independent republic. Common Sense made the colonies to separate from the monarchy. However, they have a duty to make all colonies agree with the declaration. In 10 May 1776, they achieved the resolution to separate from the monarchy. Then, a committee formed, Thomas Jefferson from Virginia as the leader to prepare the declaration as soon as possible. In 4 July 1776, America declared the declaration of independence.
In August 1776, in Long Island battle, Washington commanded to pull back his troops from Brooklyn to Manhattan. General of England, William Howe, let the American people go. In November, Howe succeeds to take over Washington’s fortress in Manhattan Island. New York City is in England’s power until the end of the battle. In December, Washington attacked the garrison in Trenton. In 3 January 1777, Washington attacked England in Princeton. These victories made the American people get stronger.
France supported America to fight with England. This situation made France to take revenge to England, since they are lost in 1763. In 1776, Benjamin Franklin went to Paris to get support from France. France helped the colonies in May 1776. In 6 February 1778, America and France signed The Treaty of Friendship and Trade. They also signed The Treaty of Alliance.
That treaty made England try to increase their power; they gathered the colonies in south and began the movement to attack America. They moved to Charleston, South Caroline and succeed to take the city. In July, General of America, Horatio Gates moved to Camden, South Caroline, to attack England led by General Charles Cornwallis. In early 1781, America won upon England in Cowpens, South Caroline. Then, Cornwallis moved to Virginia.
In July 1780, King of France, Louis XVI sent the expedition troops to America led by Comte Jean de Rochambeau. The army and navy of France and America fight with Cornwallis along summer to autumn. In 19 October 1781, Cornwallis surrendered in Yorktown. England decided to hold a negotiation in Paris in early 1782. Benjamin Franklin, John Adams, and John Jay were the delegation of America. In 15 April 1783, Congress agreed the last treaty, and Great Britain with the colonies signed the treaty in 3 September. This treaty is also known as Treaty of Paris that admitted the independence, freedom, and sovereignty of the thirteen colonies.        
  


      

Milk as The Perfect Food

            Everyone knows that milk has a lot of benefit for human being and animal, especially for the baby. There are mother’s milk and formulated milk, but the formulated milk is not complete as the mother’s milk . The main use of milk is provide all nutrition that the baby needs, the body of the baby feel fresh, because the baby get all nutrition from the mother’s milk. Besides that, the baby that given mother’s milk will grow optimally, the baby’s intelligence will rise, the baby become nimble, active, healthy, and has the high immunity, so the baby is not easy to fell ill. And for the mother, breast feeding the baby directly, can make low the body weight and tighten the body shape. Not only that, breast feeding can strengthen the relationship between mother and the baby. Differ with the formulated milk, it’s only as a supplement food for the baby. Formulated milk given by the baby, if the baby has already certain age and only as a supplement food.  
            Milk contains many nutritions that the baby’s body needs, such as vitamins, mineral, protein, calcium, carbohydrate, and so on. Nutritions have function for the baby’s body in growth phase, development, and health maintenance. There are four vitamins, vitamin A for the eyes health; vitamin B complex need for helping the energy metabolism and the nervous system; vitamin D for helping calcium absorption; vitamin E good for skin health; calcium for bone and teeth growth; mineral and protein for body’s regulator; and carbohydrate for giving energy to the body.
            So, milk is the perfect food for human being and animal, especially for the baby, because milk is the source of life and as the keystone. Milk has a lot of benefit for the baby, it’s contain many nutritions that baby’s body needs. And the mother’s milk better than formulated milk, because the formulated milk only as a supplement food for the baby, and it’s contain of preservative materials.


Rabu, 16 September 2015

LET'S BE SMART & WISE CITIZEN



Siapa sih orang Indonesia yang enggak tahu ibukota kita tercinta ini, iya betul sekali, itulah JAKARTA. Konon katanya, kota Jakarta itu kota metropolitan sekaligus kota yang dinobatkan jadi kota paling macet di dunia. Masak sih? Yup, that's absolutely right. Kenyataannya memang seperti itu. Jalanan di ibukota, macetnya minta ampun, apalagi kalau udah jam sibuk. Lantas gimana cara mengatasi kemacetan yang semakin menggila ini, sodara-sodara? Mungkin ini bisa jadi solusinya. Let's check these out!

Teknologi semakin maju ni, lulusan muda di bidang IT juga udah banyak, alangkah baiknya kalau kepolisian lalu lintas bekerjasama dengan universitas/mahasiswa/perusahaan start-up untuk menciptakan aplikasi navigasi yang bisa digunakan seluruh warga Jakarta yang hendak bepergian dengan kendaraan pribadi maupun umum. Aplikasi ini dirancang untuk mengetahui jalur alternatif sekaligus memantau arus lalu lintas, sehingga mereka bisa memilih jalur serta menghindari daerah yang mengalami kemacetan. Lebih baik lagi kalau informasi yang bermanfaat ini bisa diakses dengan mudah oleh warga Jakarta, info ini juga bisa disebarluaskan lewat surat kabar, radio, televisi, media sosial atau yang lainnya. Nah, solusi yang satu ini bisa langsung menyelesaikan dua masalah kan. Satu, mengurai kemacetan Jakarta. Dua, mengatasi pengangguran dengan memberdayakan anak bangsa yang punya kemampuan di bidang IT. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, bukan?

Yang kedua, pihak kepolisian bekerjasama dengan dinas terkait untuk mengadakan ataupun memperbaiki sarana transportasi umum menjadi lebih nyaman, aman, cepat, dan tentu saja murah bagi warga Jakarta yang mobilitasnya tinggi. Dengan pengadaan dan perbaikan tersebut, diharapkan masyarakat lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum daripada menggunakan kendaraan pribadi. Salah satu moda transportasi yang bisa dikembangkan adalah kereta api dan bus yang terintegrasi. Jadi warga Jakarta tidak perlu pusing-pusing lagi, harus ke terminal sana lah, ke stasiun sini lah, nyari halte bus seberang sana lah. Mereka cukup datang ke suatu terminal yang menjadi pusat pertemuan semua jenis transportasi, karena semuanya sudah diintegrasikan, hal ini akan lebih memudahkan warga Jakarta untuk berpindah-pindah serta beraktivitas. Coba kita tengok bagaimana kondisi transportasi umum di Jakarta! Jumlahnya sudah terlalu banyak, enggak terawat pula. Ditambah dengan sopirnya yang ugal-ugalan, ini mungkin jadi salah satu faktor kenapa kemacetan di Jakarta semakin meningkat. Banyak angkot yang ngetem sembarangan, tambah macet lah jalanan Jakarta. Untuk itu, dalam menyeleksi sopir dan awaknya, enggak boleh sembarangan, harus lebih selektif dan kalau perlu diberi training tentang keselamatan dan ketertiban lalu lintas secara berkala.

Selanjutnya ni, jangan malu lah untuk mencontoh negara lain yang sukses dalam mengatasi kemacetan di negaranya. Kita tengok dulu tetangga kita, Malaysia, yang memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Putrajaya. Inisiatif yang satu ini layak dicoba lho di Indonesia. Lalu, mereka menerapkan "smart way", bener-bener smart kan. "Smart way" adalah terowongan bawah tanah yang berfungsi sebagai jalan bebas hambatan dan pengendali banjir. Tapi, untuk menerapkannya di Indonesia atau Jakarta, kita perlu melakukan penelitian terlebih dahulu apakah kondisi tanah dan lain sebagainya stabil atau tidak. Malaysia juga membangun jembatan antar gedung dan pedestrian yang layak bagi masyarakatnya. Semoga solusi ini bisa dipertimbangkan deh.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, beda Malaysia, beda pula Jepang dalam mengatasi masalah yang satu ini. Gimana ya caranya negeri sakura ini mengatasi kemacetan? Yuk dilihat dulu yuk! Jepang benar-benar berusaha untuk mengontrol peningkatan volume kendaraan yang ada di sana. Mereka membatasi tingkat emisi pada setiap kendaraan yang mempunyai batas masa berlakunya. Uji emisi ini, bisa menghabiskan biaya yang tidak sedikit alias mahalnya minta ampun. Selanjutnya, Jepang menetapkan pajak kendaraan yang tinggi juga, jadi semakin tua umur kendaraan, semakin tinggi pula pajaknya. Lalu apalagi ya? Mereka juga menetapkan parkir kendaraan yang mahal. Biaya parkir per bulan di apartemen bisa habis sampai 3 juta rupiah per bulan. Busyet dah!! Uang segitu mending buat makan yak, daripada buat bayar parkir doang. Biaya uji emisi mahal. Pajak kendaraan mahal. Biaya parkir mahal. Ternyata enggak hanya itu lho. Biaya tolnya juga mahal. Lewat satu gerbang tol aja, udah ngabisin duit 100 ribu rupiah, sodara-sodara! Superb sekali! Nah, ini ni, jurus pamungkasnya, sarana transportasi umum yang baik. Jelas lah, negara Jepang memang terkenal sebagai negara maju di bidang teknologi. Mereka menciptakan transportasi yang supercepat, modern, sekaligus canggih. Kita patut belajar dari Jepang, walaupun mereka negara produsen, tetapi mereka tidak konsumtif. Jadi, gak heran kalau masyarakat Jepang lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum daripada punya kendaraan pribadi. Kenapa coba? Karena merek punya transportasi umum yang baik. Mereka punya transportasi umum yang nyaman, murah, informatif, teratur, dan tentu saja on time alias tepat waktu, karena memang seperti itulah masyarakat Jepang, tidak pernah ngaret, disiplin, dan dinamis. 

Pada akhirnya, untuk mengatasi kemacetan di Jakarta ataupun di kota-kota besar di seluruh Indonesia, harus melibatkan banyak pihak untuk mengurangi bahkan mungkin meniadakan kemacetan. Karena persoalan ini merupakan tanggung jawab kita bersama, tidak hanya tanggung jawab kepolisian lalu lintas. Saya berharap dengan kemajuan teknologi, kerjasama yang baik dari berbagai pihak, serta peningkatan kinerja dan manajemen lalu lintas dari kepolisian, kemacetan yang sudah lama terjadi di Jakarta dapat segera diatasi.

TETAP SEMANGAT PAK/BU POLISI ! :D



Referensi:
http://klikmenarik.blogspot.co.id/2012/06/jepang-ajari-indonesia-cara-mengatasi.html
https://motorek.wordpress.com/2012/06/08/inilah-cara-singapura-mengatasi-kemacetan/
http://sumatracyber.blogspot.co.id/2014/06/inilah-cara-jitu-5-negara-dalam.html
http://j-cul.com/inilah-cara-jepang-mengatasi-kemacetan-lalu-lintas/
http://uty.ac.id/2014/07/kerja-cerdas-malaysia-dalam-mengurai-macet/          

Selasa, 09 Juni 2015

TUMBUH BERKEMBANG BERSAMA BANK SYARIAH


Beberapa tahun lalu, dunia perbankan Indonesia tidak hanya diramaikan oleh bank-bank konvensional, tetapi bank-bank syariah juga berhasil ambil bagian di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah tanggal 16 Juli 2008, ini menjadi dasar hukum bagi pertumbuhan dan perkembangan industry perbankan syariah nasional sampai sekarang ini yang semakin berkembang. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang membedakan antara bank syariah dengan bank konvensional?
Tentu saja yang membedakan antara bank syariah dengan bank konvensional adalah prinsip yang digunakan. Bank syariah menggunakan prinsip dan nilai-nilai syariah yang mengutamakan keadilan, keseimbangan, dan kepercayaan. Di samping itu, tujuan didirikannya perbankan syariah adalah untuk memfasilitasi masyarakat dalam mengatasi kekurangan serta memberdayakan ekonomi masyarakat sesuai dengan petunjuk Alquran dan hadist. Sehingga, semua produk yang dihasilkan oleh bank syariah tidak boleh lepas dari tujuan syariah.
Perlu ditekankan, tujuan syariah tidak sama dengan tujuan konvensional. Dalam hal ini, gadai syariah atau rahn bisa menjadi salah satu contoh yang sangat mendasar dari produk keuangan syariah. Perbedaan antara pegadaian konvensional dengan pegadaian syariah terletak pada sumber pendanaan, sistem pelelangan, dan cara perhitungan biaya. Pendanaan gadai syariah boleh berasal dari modal sendiri dan mudharabah muqayyadah. Sedangkan, pendanaan gadai konvensional berasal dari modal sendiri atau menerbitkan obligasi. Untuk sistem pelelangan bank konvensional, penerima gadai lah yang sepenuhnya mendapatkan hasil lelang. Lain halnya dengan bank syariah, apabila terdapat kelebihan nilai dari hasil lelang, kelebihan tersebut dikembalikan kepada pemilik barang atau diberikan kepada badan amil zakat atau bisa juga disalurkan untuk kepentingan sosial. Cara perhitungan biaya pada gadai syariah adalah biaya yang dititipkan dihitung dari berat atau jumlah barang. Sedangkan, gadai konvensional dihitung dari bunga dengan jumlah yang dipinjam. Itulah salah satu produk keuangan syariah yang mempunyai tujuan yang sangat berbeda dengan produk yang dikeluarkan bank konvensional.
Hal yang mendasar lainnya yang diterapkan bank syariah adalah margin dan sistem bagi hasil. Berbeda dengan bank konvensional yang menerapkan bunga (riba) dalam sistem pengelolaan keuangannya. Apa yang berbeda dari keduanya? Pendapatan bank syariah berasal dari margin yang menghindari adanya sistem bunga atau riba karena hal tersebut diharamkan dalam prinsip syariah, sedangkan pendapatan bank konvensional bersumber dari bunga. Penetapan margin harus berdasarkan atas kesepakatan dan keikhlasan pihak bank dan nasabah, sedangkan penentuan tingkat bunga lebih ditentukan pada satu pihak, yaitu pihak bank.
Model operasional yang digunakan bank syariah dan bank konvensional juga berbeda. Bank syariah lebih memperhatikan pengembangan transaksi mudharabah dan musyarakah dibandingkan dengan murabahah, kedua sistem ini tidak dipergunakan oleh bank konvensional. Dalam akad kedua sistem tersebut, terdapat keterbukaan informasi mengenai berapa persen dana nasabah yang terikat pada keseluruhan dana yang dimanfaatkan dalam pembiayaan suatu proyek yang dikelola oleh bank syariah melalui akad bagi hasil dengan nasabah yang memerlukan pendanaan. Keuntungan dari proyek tersebut dibagi berdasarkan pada proporsi bagi hasil yang telah disepakati sebelumnya antar semua pihak. Investor mempunyai kesempatan yang cukup baik untuk mendapatkan penerimaan bagi hasil yang lebih besar daripada tingkat bunga pada bank konvensional. Inilah salah satu kelebihan dari sistem bagi hasil yang ada pada produk bank syariah, dibanding dengan penerimaan bunga pada bank konvensional yang persentasenya bersifat tetap.
Bank syariah menjalankan konsep berbagi resiko yang dibuat lebih aman, karena bank syariah tidak akan memasuki ranah pasar uang atau modal. Lain halnya dengan bank konvensional yang lebih bebas dalam memasuki ranah pasar uang dan modal untuk berspekulasi. Dalam hal ini, bank syariah tidak dibenarkan untuk berspekulasi seperti yang sering dilakukan oleh bank konvensional. Selain itu, konsep berbagi resiko yang diterapkan bank syariah akan menciptakan disiplin yang sehat dalam bisnis serta memotivasi kedua belah pihak untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi.
Untuk menarik nasabah, bank konvensional menerapkan sistem pelayanan kartu kredit yang menawarkan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh pembiayaan dengan tujuan untuk memenuhi hasrat konsumtif masyarakat yang semakin meningkat. Dampak negatif yang dihasilkan oleh sistem tersebut adalah seringkali nasabah terbelit dalam hutang piutang. Dalam hal ini, bank syariah berupaya untuk tidak mengikuti sistem pembiayaan yang seperti itu. Bank syariah selalu berusaha untuk mempertimbangkan terlebih dahulu akad apa yang paling tepat yang dapat dipilih oleh seorang nasabah. Salah satu upaya bank syariah agar nasabah terhindar dari sistem yang sering digunakan oleh bank konvensional tersebut adalah dengan menggunakan akad Al-Bai’ wal Ijarah Muntahiyah bit Tamlik (IMBT) yang merupakan gabungan dari dua akad yaitu akad jual beli (al-bai’) atau hibah pada akhir periode sewa dan sewa menyewa (ijarah). Akad ini berlaku bagi nasabah yang tidak memiliki cukup dana untuk membeli barang, tetapi berharap suatu saat dapat memiliki barang tersebut.
Selain menggunakan akad Al-Bai’ wal Ijarah Muntahiyah bit Tamlik (IMBT), bank syariah juga memiliki kartu kredit yang dikenal dengan Islamic card atau syariah card. Kartu kredit syariah ini mempunyai status hukum yang berperan sebagai media jasa kafalah disertai dengan talangan pembayaran serta jasa ijarah. Kartu kredit syariah yang diperbolehkan berdasarkan ketentuan umum Fatwa DSN-MUI Nomor 54/DSN-MUI/X/2006 tentang Syariah Card yang mempunyai fungsi sebagai kartu kredit yang berkaitan dengan hukum antara para pihak yang bertransaksi berdasarkan prinsip dan nilai syariah sebagaimana telah diatur dalam fatwa tersebut.
Tak mengherankan jika dalam menarik dan memelihara nasabah, bank konvensional seringkali menawarkan pelayanan yang berlebihan kepada nasabah, terutama kepada nasabah yang memiliki simpanan ratusan juta. Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip dan nilai-nilai syariah yang mengutamakan keadilan serta keseimbangan. Selain itu juga berlawanan dengan perspektif pelayanan prima (service excellence), yang menyatakan bahwa semua nasabah atau konsumen dilayani dengan baik bahkan dipandang sebagai “raja”. Hal yang sering terjadi pada bank konvensional ini tidak berlaku pada bank syariah, karena pada prinsipnya setiap nasabah memiliki hak yang sama.
Perbedaan lainnya antara bank syariah dan bank konvensional terdapat dalam masalah denda. Pada bank syariah, denda tidak boleh dijadikan sebagai sumber pendapatan, melainkan harus disalurkan pada kepentingan sosial, contohnya sebagai produk qurdul hasan. Sedangkan pada bank konvensional, denda dihitung sebagai sumber pendapatan.
Dari perbandingan ini, penulis berharap perbankan syariah bisa menghasilkan inovasi produk keuangan syariah yang murni syariah dan memiliki keunggulan daripada produk bank konvensional, karena selama ini bank syariah masih mengadopsi produk bank konvensional. Di samping itu, diharapkan dengan adanya bank-bank syariah di Indonesia, tidak hanya bisa memajukan perbankan serta perekonomian Indonesia, tetapi juga dapat bersaing dalam Masyarakat Ekonomi Asean yang sebentar lagi akan kita hadapi. Oleh karena itu, untuk mengembangkan perbankan syariah Indonesia, kita dapat belajar dari perbankan syariah di negara-negara barat atau negara tetangga yang tidak hanya menarik minat umat muslim, tetapi juga umat non-muslim. Mereka memberikan kepercayaan kepada perbankan syariah atas pengelolaan keuangan atau bisnis yang mereka jalani. Selain itu, diperlukan juga peningkatan di berbagai elemen dalam perbankan syariah di dalam negeri, seperti inovasi produk keuangan syariah, manajemen, sumber daya manusia, dan pengawasan. Akhir kata dari penulis, Aku Cinta Keuangan Syariah!

Sumber:
Kahf, Monzer. Tanya Jawab Keuangan dan Bisnis Kontemporer dalam Tinjauan Syariah. Solo: Aqwam, 2010.
Alwi, Syafaruddin. Memahami Sistem Perbankan Syariah: Berkaca pada Pasar Umar Bin Khattab. Yogyakarta: BukuRepublika, 2013.