Pages

Rabu, 14 Oktober 2015

ACEH DAN MEREKA

Bumi nusantara telah banyak mengalami tragedi yang memilukan sepanjang dekade terakhir ini. Mungkin, masih tampak lekat dalam ingatan kita, peristiwa mahadahsyat yang menimpa saudara kita di wilayah barat Indonesia, yang terjadi hampir 11 tahun yang lalu. Gempa bumi dan tsunami telah memporak-porandakan serambi Mekah, Aceh, di hari Minggu pagi, 26 Desember 20004. Gempa bumi tersebut terjadi kurang lebih pada pukul 8:00 WIB. Pusat gempa terletak kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 km. Gempa ini berkekuatan 9,3 Skala Richter. Tak hanya guncangan yang dihasilkannya begitu dahsyat, tetapi juga merupakan gempa yang terlama, kurang lebih selama 10 menit. Kemudian, gempa ini disusul dengan tsunami besar, setinggi 9 meter.

Tak terbilang banyaknya korban jiwa yang ditelan dan bangunan yang hancur lebur akibat bencana besar ini. Gempa bumi ini tercatat tak hanya menghantam Aceh, tetapi juga melanda Pantai Timur India, Srilanka, Thailand, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, dan Pantai Timur Afrika. Bisa dikatakan ini merupakan tragedi dunia.

Bencana alam ini, tentu saja menjadi sebuah magnet bagi orang-orang di seluruh dunia. Mereka, para korban, membutuhkan pertolongan yang tidak sedikit. Mereka tak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga keluarga dan kerabat, dan mungkin ini menjadi kesedihan yang paling sulit untuk dipulihkan, yaitu kehilangan sanak saudara. Melihat keadaan yang seperti itu, berbondong-bondong lah organisasi kemanusiaan dan pemerintah untuk membantu mereka yang terkena nestapa.

ICRC #70thICRCid mempunyai kantor di Banda Aceh, sehingga ICRC yang bekerja sama dengan PMI dapat langsung membantu masyarakat Aceh pasca terjadinya musibah tersebut. Para relawan Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional menyalurkan 1000 terpal dan perlengkapan rumah tangga untuk para pengungsi.

Berbagai kegiatan dan bantuan dari ICRC mengalir dalam musibah Aceh ini. ICRC memberikan bantuan makanan dan non-makanan serta tempat tinggal bagi pengungsi. Mereka melakukan pengamatan ke penampungan-penampungan di Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Bireuen, Lhokseumawe, dan Kabupaten Aceh Besar. Pengamatan ini dilanjutkan dengan penyaluran bantuan tersebut. ICRC bekerja sama dengan PMI memberikan bantuan non-pangan kepada 24.462 rumah tangga. Mereka juga menyalurkan bantuan makanan kepada 11.086 rumah tangga.       

Tak hanya itu, ICRC menyediakan berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban kepada relawan-relawan PMI, antara lain: kantong mayat, masker, sarung tangan, sepatu karet, sekop, pakaian pelindung, helm, alat penerangan, dan terpal plastik. Dalam evakuasi tersebut, PMI bergotong-royong dengan TNI, POLRI, dan SAR. Mereka mengevakuasi lebih dari 20.000 jenazah di kota Banda Aceh.

Selain memberikan bantuan makanan, non-makanan, dan peralatan evakusi, ICRC juga bekerja sama dengan pakar medis. Mereka melakukan pemantauan terhadap rumah sakit yang masih tersisa di Banda Aceh dan fasilitas kesehatan di tempat pengungsian. Mereka juga memberikan pasokan medis apabila dibutuhkan, seperti: sarung tangan bedah, bahan untuk membebat, bahan-bahan benang bedah, bahan-bahan untuk pengobatan patah tulang, paket peralatan dasar untuk apotek, paket obat-obatan dasar untuk apotek, antibiotik, suntikan analgesik, desinfektan, berbagai obat-obatan, dan peralatan medis. Palang Merah Norwegia juga memberikan bantuan berupa 100 tempat tidur yang diperuntukkan bagi rumah sakit lapangan di Banda Aceh.

Dalam bencana alam yang besar tersebut, tentunya para pengungsi mengalami krisis air bersih. Oleh karena itu, para pakar air dan sanitasi dari ICRC melakukan penilaian atas akses terhadap air bersih dan kondisi sanitasi pengungsi. Mereka menyediakan air bersih dan fasilitas sanitasi.

Yang paling penting dari keseluruhan kegiatan ICRC dalam mengatsi musibah Aceh ini adalah bagaimana organisasi kemanusiaan ini dapat memulihkan hubungan antara korban gempa dan tsunami Aceh dengan keluarga mereka. Dalam kegiatan ini, ICRC bekerja sama dengan PMI, menggunakan banyak sarana seperti pertukaran Berita Palang Merah, penggunaan formulir “Saya Selamat” dan “Saya Mencari”, penggunaan telepon satelit, membantu anak-anak tanpa pendamping dan mempublikasikan nama mereka di media-media, serta penggunaan website ICRC www.familylinks.org.

Berikut adalah video wawancara bersama Markus Dolder - wakil kepala ICRC delegasi Indonesia pada tahun 2002-2005 - tentang situasi Aceh setelah bencana Tsunami terjadi.



Walaupun sudah lebih dari 10 tahun bencana Aceh terjadi, masih banyak yang memberikan bantuan terhadap mereka, terutama anak-anak yatim korban gempa bumi dan tsunami Aceh. Salah satu perhatian yang diberikan kepada mereka datang dari Organisasi Konferensi Islam bersama dengan PKPU. Mereka memberikan 1250 paket perlengkapan sekolah di kota Banda Aceh, Kabupaten Sabang, dan Kabupaten Aceh Besar melalui Orphan Kafala Program. Secara khusus, program ini memang diperuntukkan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana. Selain paket perlengkapan sekolah, anak-anak yatim juga mengikuti training dan educational program, health and care, serta pembinaan secara langsung.

Dari musibah yang terjadi di Aceh 10 tahun yang lalu, banyak yang dapat kita jadikan pelajaran. Salah satunya, kita sebagai makhluk sosial sekaligus beragama. Tak dapat dipungkiri, kita tidak bisa bertahan di dunia ini sendirian. Dan, salah satu momen yang bisa menyadarkan kita akan hal tersebut adalah kita atau orang lain tertimpa suatu bencana atau musibah. Maka, lahirlah rasa kasih sayang dan kepedulian itu. Tanpa memandang perbedaan. Bukankah kita tidak akan bertanya terlebih dahulu apa latar belakang atau agama orang yang sedang terkena musibah, sebelum kita memberikan pertolongan kepadanya? Bukankah kita tidak akan bertanya terlebih dahulu apa latar belakang atau agama orang yang benar-benar sedang membutuhkan donor darah, sebelum memberikan darah kita kepadanya? Itulah kekuatan kasih sayang.

Sumber:
Blogs.icrc.org
Tribunnews.com
Kompasiana.com
Youtube.com

Jumat, 09 Oktober 2015

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Hari Pangan Sedunia 2015
Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia.

Berbicara tentang hari pangan sedunia, kita lihat dulu sejarah singkatnya. Food and Agriculture Organization (FAO) menetapkan World Food Day melalui Resolusi PBB No. 1/1979 di Roma Italia. Hari pangan sedunia diperingati pada tanggal 16 Oktober yang juga merupakan hari lahirnya FAO. Sejak tahun 1981, seluruh negara anggota FAO termasuk Indonesia memperingati Hari Pangan Sedunia secara nasional. Hari Pangan Sedunia dijadikan momentum bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan pemahaman serta kepedulian terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Hari pangan sedunia dapat pula disandingkan dengan petani. Petani lah yang menghasilkan serta menyediakan pangan bagi kita, setiap harinya. Tak ada petani, maka tak ada pangan. Bisa kalian bayangkan bukan, betapa pentingnya peran petani-petani kita?

Coba bayangkan sejenak, jika kita tak punya bapak/ibu petani. Bagaimana nasib negara kita? Negara yang sebesar ini? Negara yang punya lebih dari 200 juta jiwa ini? Bagaimana cara kita untuk memenuhi kebutuhan pangannya, jika kita tak punya petani? Apakah kita akan terus-menerus mengimpor bahan pangan? Apakah kita hanya akan menghabiskan anggaran negara hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan kita saja? Jawabannya hanya diri kita sendiri yang tahu, sebagai warga Negara Indonesia.  

Bila kita mau menengok sebentar saja ke masa lalu negara kita, Indonesia pernah menjadi negara agraris dan maritim yang mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional, bahkan mengekspornya. Indonesia diberkahi dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sawah, hutan, lautan, Indonesia punya semua itu. Kita juga punya petani-petani yang luar biasa. Dengan diperingati hari pangan sedunia, saya berharap, Indonesia bisa bangkit lagi dan menjadi negara agraris dan maritim seperti dulu. Indonesia bisa menjadi “Macan Asia”, atau bahkan “Macan Dunia”.   

Kenyataannya, untuk saat ini, produksi pangan nasional semakin menurun, dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan penduduknya. Apa yang terjadi? Mau tak mau, kita harus mengimpor bahan pangan. Impor bahan pangan sama saja dengan mengeluarkan anggaran yang lebih besar lagi, sedangkan pangan merupakan kebutuhan pokok. Ini artinya, semakin besar kita mengimpor bahan pangan, semakin tergantung pula kita kepada negara asing. Ketergantungan kepada negara asing akan menjauhkan kita dari impian sebagai negara yang berdaulat dan mandiri.  

Produksi pangan nasional pasti berhubungan erat dengan pangan dan gizi suatu bangsa. Pangan dan gizi yang baik dan bermutu bisa menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju. Kenapa? Karena dengan ketersediaan dua hal tersebut akan menghasilkan tunas-tunas bangsa yang unggul.  

Nah, untuk itulah mari kita memberi dukungan dan apresiasi kepada petani-petani Indonesia. Petanipejuang pangan dan gizi bangsaku, sebutan itu layak bagi mereka, karena mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyediakan kebutuhan pangan bangsa ini. Selain itu, secara tidak langsung, mereka juga peduli terhadap asupan gizi anak-anak Indonesia yang kelak menjadi pelita bangsa ini. Jika hal ini dipikirkan lebih jauh lagi, betapa mulianya peran petani-petani Indonesia.

Bisakah kalian bayangkan, hidup di dunia ini tanpa makan dan minum? Itu sama halnya dengan Indonesia tanpa petani, karena petani hidup dan mati bangsaku. Tanpa mereka, kita tidak akan bisa bertahan. Tanpa mereka, kita tidak akan bersaing dan maju. Tanpa mereka, generasi muda Indonesia tidak akan bertumbuh dan berkembang.

Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana rumitnya proses sebutir nasi yang kita makan setiap harinya berada di piring kita? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana susahnya dalam merawat buah-buahan dan sayur-sayuran hingga sampai di meja makan kita? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana sulitnya membesarkan ternak untuk kita nikmati daging dan susunya? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana lelahnya menjaring atau menangkap ikan serta kroni-kroninya? Mungkin hanya petani yang tahu bagaimana sulitnya proses-proses tersebut. Mereka belajar bersabar. Menunggu hingga masa panen tiba. Menunggu hingga cukup besar ternak-ternaknya. Menunggu waktu yang tepat untuk melaut. Dan, dari semua proses melelahkan itu, mereka hanya meyakini satu, memberikan bahan pangan yang terbaik untuk bangsa tercinta. Untuk itulah, mereka sangat pantas diberi kehormatan sebagai petani tulangpunggung pangan dan gizi bangsaku.

Kamis, 08 Oktober 2015

Corat-Coret Academic Writing

SYMBOLISM IN THE SCARLET LETTER BY NATHANIEL HAWTHORNE
Ummu Rahmahwati

Abstract

In this paper, entitled “Symbolism in The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne”, the writer would like to discuss the symbolism of the novel. The purpose of this writing is to analyze the symbolism of the novel. The writer uses symbolism theory and close reading method. The novel consists of symbolism, character, setting, theme, point of view, plot, etc. The most interesting aspect in this novel is symbolism.

Keywords: symbolism, novel.

Abstrak

Dalam makalah yang berjudul “Symbolism in The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne”, penulis ingin membahas tentang simbol dalam novel tersebut. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis simbol yang ada dalam novel. Penulis menggunakan teori simbol dan metode membaca cermat. Novel terdiri atas simbol, karakter, seting, tema, sudut pandang, alur, dan lain-lain. Aspek yang paling menarik dalam novel ini adalah simbol.

Kata kunci: simbolisme, novel

Belajar Menerjemahkan

Tuhan, Aku Cinta Padamu

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan
wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

WS Rendra

God, I love You

I was limp
But powerful
I do not feel pain
or irritate

I want to eat soup
I never feel short-winded
But my body was not satisfied
to have the ideal position and
natural

I want to clean my body up
from the chemical poison

I want to go back to the natural way
I want to increase the devotion
to God

God, I love You

Translated by: Ummu Rahmahwati

Salah Satu Bab - History of English Language

85. Penggunaan Bahasa Prancis oleh Kalangan Atas

Berapapun jumlah orang Norman yang menghuni Inggris, sangat jelas bahwa anggota golongan yang berkuasa baru cukup berkuasa untuk terus menggunakan bahasa mereka sendiri. Ini merupakan hal yang biasa, karena mereka tidak tahu bahasa Inggris; mereka mempelajarinya secara bertahap tetapi tidak berusaha dalam politik. Dua ratus tahun setelah Penaklukan Norman, bahasa Prancis tetap digunakan dalam pergaulan kalangan atas di Inggris. Awalnya mereka yang menggunakan bahasa Prancis adalah orang-orang Norman asli, tetapi kemudian melalui perkawinan campuran dan asosiasi dengan golongan yang berkuasa orang-orang keturunan Inggris harus mempergunakan kesempatan mereka untuk mempelajari bahasa baru, sebelum muncul banyak perbedaan antara mereka yang berbahasa Prancis dan yang berbahasa Inggris tak hanya suku tetapi sebagian besar masyarakat. Bahasa rakyat tetap bahasa Inggris. Situasi menjadi baik, sekitar tahun 1300, penulis sejarah yang dikenal Robert dari Gloucester.
Sebuah persamaan yang mengandung pelajaran ke dalam karakter dua bahasa di Inggris pada periode ini dilengkapi dengan contoh bahasa Belgia saat ini. Dalam tulisan ini terdapat bahasa Flemish dan Prancis (Walloon) yang digunakan secara bersamaan. Meskipun penggunaan dua bahasa ini sedikit berhubungan dengan kondisi geografi hal ini juga untuk beberapa tingkatan yang bergantung pada kedudukan sosial dan kebudayaan. Bahasa Prancis sering digunakan oleh kalangan atas, di daerah Flemish sekalipun. Perlu diperhatikan bahwa kefasihan dalam berbahasa Prancis menjadi kurang umum di utara, terutama untuk generasi muda.

86. Keadaan yang Mengangkat kembali Penggunaan Bahasa Prancis

Faktor terpenting dalam penggunaan bahasa Prancis kembali oleh kalangan atas Inggris sampai awal abad ke-13 adalah hubungan akrab yang terus berlangsung pada tahun-tahun ini antara Inggris dan Eropa. Dari waktu Penaklukan raja-raja Inggris juga merupakan dukes Normandia. Pada akhir hidupnya William Sang Penakluk terlihat lebih dekat dengan dukedomnya daripada dengan negara yang dipimpinnya. Tak hanya dimakamkan di sana, tetapi dalam pembagian warisannya dia menyerahkan Normandia kepada anak pertamanya dan Inggris kepada William, anak keduanya. Kemudian dua daerah ini bersatu kembali di tangan Henry I. Pada pencapaian Henry II, tanah Inggris di Prancis masih diperluas lagi. Henry, pangeran Anjou, diwarisi ayahnya daerah kekuasaan Anjou dan Maine. Dengan menikahi Eleanor dari Aquitaine dia memiliki tanah yang luas di selatan sehingga ketika menjadi raja Inggris dia menguasai 2/3 Prancis.
Dalam keadaan itu bukan hal yang mengherankan perhatian bangsa Inggris tertuju pada masalah-masalah yang terjadi di Prancis. Memang, raja-raja Inggris sering menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sana. William dan anak-anaknya berada di Prancis kira-kira separuh dari pemerintahan mereka masing-masing. Tak ada raja Inggris sampai pada Edward IV (1461-1483) mencari istri di Inggris, kaecuali Henry I, dan ini merupakan hal yang biasa dalam meneruskan penggunaan bahasa Prancis di istana Inggris.
Kaum bangsawan Inggris tak sepenuhnya seorang bangsawan di Inggris sebagai seorang aristokrasi Anglo-Prancis. Hampir semua tuan tanah Inggris mempunyai tanah di Eropa, seringkali nikah kontrak, dan menghabiskan banyak waktu di Prancis. Banyak peristiwa ketika raja dan bangsawannya bertunangan dalam operasi militer dan hal ini terus berlangsung untuk mempertahankan penggunaan bahasa Prancis.

87. Sikap terhadap Bahasa Inggris

Pendapat bahwa para pendatang tidak menyukai bahasa Inggris tidak mempunyai dasar. Hal ini memang benar bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang tak tertata, bahasa orang bawahan, dan seorang uskup seperti Wulfstan mendapat penghinaan dari bangsa Norman, karena ketidaktahuannya akan semboyan masyarakat. Henry dalam pernyataan Huntington bahwa hal yang memalukan untuk disebut seorang pria Inggris merupakan pernyataan retoris yang berlebihan. Hal ini tak masuk akal untuk mengharapkan orang-orang yang dijajah tak merasakan kebencian atau bangsa Norman tak pernah angkuh atau suka menguasai. Tetapi ada juga banyak bukti saling menghargai dan kerjasama yang baik, tak masalah ada perkawinan campuran, antara bangsa Norman dan Inggris. Penulis kronik Orderic Vitalis, adalah putra dari seorang ayah berbangsa Norman dan seorang ibu berbangsa Inggris, meskipun faktanya dia menghabiskan hidupnya dari umur 10 tahun di Normandia, selalu menunjukkan pada dirinya sebagai seorang pria Inggris.
Menurut penulis kronik yang sama William Sang Penakluk berusaha untuk mempelajari bahasa Inggris pada usia 43 tahun. Tak ada yang mustahil dalam pernyataan. Tentu saja tuntutan seorang penulis abad ke-14 bahwa sang Penakluk memikirkan bagaimana menghapus bahasa “Saxon” agar bangsa Inggris dan Prancis berbicara dengan bahasa yang sama. Anak termudanya, Henry I, mengetahui beberapa bahasa Inggris. Jika raja-raja terdahulu terlihat tidak mengetahui bahasa, rendahnya pengetahuan mereka tidak dihubungkan pada tujuan tertentu. Pada periode penting—periode 1200 ke atas—sikap raja dan golongan atas terhadap bahasa Inggris digolongkan sebagai salah satu kelalaian kecil. Mereka tidak memperkuat bahasa Inggris karena kegiatan mereka di Inggris tak mengharuskannya dan perhatian mereka terus tertuju pada persoalan yang berhubungan dengan Eropa membuat bahasa Prancis lebih berguna bagi mereka.

88. Kesusasteraan Prancis di Istana Inggris

Lengkapnya bahasa Prancis di istana Inggris saat ini terlihat jelas dengan dihasilkannya kesusasteraan untuk kerajaan dan perlindungan orang bangsawan. Pada tahun pertama yang mempunyai sedikit alat pertunjukan modern, kesusasteraan memainkan peranan penting dalam kehidupan golongan orang-orang senang. Dan sangat menarik untuk mengetahui bagian kesusasteraan Prancis yang dihasilkan di Inggris dari awal abad ke-12. Kita tak cukup tahu kondisi kesusasteraan pada masa William, meskipun pengakuannya dalam pembelajaran terlihat dalam banyak penetapannya pada kedudukan gereja tinggi. Anak perempuannya Adela adalah pelindung para penyair, dan anak laki-lakinya Henry I, mendapat gelar Beauclerc, yang setidaknya menikah berturut-turut dengan dua ratu yang sangat mendukung para penyair. Istananya merupakan pusat kegiatan kesusasteraan. Philippe de Thaun menulis Bestiary, penggambaran puisi yang agak khayal tentang alam dengan berbagai binatang dan penambahan ke setiap deskripsi moral yang lebih khayal. Geoffrey Gaimar menulis History of the English, dalam sajak berbahasa Prancis, untuk Lady Custance “Ii Gentil”. Pada saat yang sama Samson de Nanteuil menuliskan 1100 baris sajak menjadi Proverbs of Solomon untuk Lady Adelaide de Conde, istri dari baron Lincolnshire. Pada pemerintahan Henry II Wace menulis Roman de Brut dan mempersembahkannya pada ratu, Eleanor dari Aquitaine. Kemudian Wace mengerjakan Roman de Rou untuk menuliskan catatan yang sama dengan dukes Normandia. Karya-karya keagamaan dan pendidikan, kehidupan orang-orang suci, kiasan-kiasan, sejarah-sejarah, dan roman dari Horn, Havelok, Tristan, dan yang lainnya terus bertambah pada abad ke-12. Hal ini menunjukkan dasar yang kuat bahwa kebudayaan Prancis diambil di tanah Inggris yang sangat penting bagian kesusasteraan dalam bahasa Prancis dapat dituliskan atau untuk Inggris, selebihnya berada di bawah perlindungan istana langsung.


War of Independence

It was difficult situation for Britain after Indian war. They had to make a new rule for America. First step that they made was they change the Molasses Act in 1733 into Sugar Act in 1764. This new act made the merchant of New England was angry. In 1764, the parliament put Currency Act into effect. Quartering Act in 1765 also made difficult for the colonies. Stamp Act drove the foremost merchant to rebel and formed non-import association. Trading with the main country was so decreased in the summer of 1765, when “Sons of Liberty” was formed. This act was not considered from Massachusetts to South Caroline. Patrick Henry, the member of Virginia House of Burgesses stated that tax without presentation was a threat for their freedom. In 8 June, Council of Massachusetts invited the colonies to choose the delegation for the Stamp Act Congress in New York that was conducted in October 1765. This congress had purpose to apart from Britain’s power. The results were; there was no tax in constitutionally that was affected to them and Stamp Act inclined to eliminate the right of the colonies.
This situation made the colonies thought that the parliament did not have right to put act for them, and the legislative of the colonies did not have right to agree with the law of Britain too. The parliament did not accept this opinion; however, merchant of England that felt the effect suppressed the parliament. In 1766, the parliament eliminated Stamp Act and modified Sugar Act. Then, the parliament put Declaratory Act.
In 1767, Charles Townshend, Minister of Finance in England, made Townshend Act. It triggered the dissatisfaction of the colonies. In Boston, this regulation made the violence came up. When the official of customs office collected the tax, they were beaten by the mass. It made two regiments of England was sent to protect the official of customs office there. In 5 March 1770, there was disagreement between the citizen and the troops of England. It caused three citizens of Boston dead and called Butchering of Boston. The parliament chose to eliminate Townshend Act.
In 1773, East Indies Company needed Britain to help them in tea trading. Colonial merchants gathered with radicals led by Samuel Adams from Massachusetts to attack that company in harbor along the Atlantic. In Boston, Samuel Adams and his troop were disguised as the Indian Mohawk, entered the three ships of England, and threw the three cargos to the Boston Harbor. It was called Boston Tea Party. The revolutionary people began to make some acts to prepare their opposition to the parliament and Britain that was made the Coercive Act. George III made a step to fight against the colonies.
General Thomas Gage sent his troop to seize ammunitions that was collected by the colony of Massachusetts. In 19 April 1775, that troop was in Lexington and saw the Minutemen. This troop began to shoot the Minutemen, when they heard someone shooting. The result was eight dead and 10 injured. In 10 May 1775, Continental Congress II was held in Philadelphia, Pennsylvania. In 15 May, Congress decided to fight against Britain and chose Colonel George Washington from Virginia as the leader of American’s troop. This conflict triggered John Dickinson to write a petition called Olive Branch Petition. He stated that he asked to the king to prevent the hostility actions until they achieved the agreement. That petition was not accepted and King George III, in 23 August 1775, took a statement that the colonies were in rebellion stage. In early June 1776, warship of England went along the shore to Charleston, South Caroline, and shot the city. However, the people were ready and succeed to chase England away in the end of June.             
In January 1776, Thomas Paine published a pamphlet entitled Common Sense. Through this pamphlet, Paine attacked the monarchy and gave two choices, surrendered to the tyrant or got the freedom as an independent republic. Common Sense made the colonies to separate from the monarchy. However, they have a duty to make all colonies agree with the declaration. In 10 May 1776, they achieved the resolution to separate from the monarchy. Then, a committee formed, Thomas Jefferson from Virginia as the leader to prepare the declaration as soon as possible. In 4 July 1776, America declared the declaration of independence.
In August 1776, in Long Island battle, Washington commanded to pull back his troops from Brooklyn to Manhattan. General of England, William Howe, let the American people go. In November, Howe succeeds to take over Washington’s fortress in Manhattan Island. New York City is in England’s power until the end of the battle. In December, Washington attacked the garrison in Trenton. In 3 January 1777, Washington attacked England in Princeton. These victories made the American people get stronger.
France supported America to fight with England. This situation made France to take revenge to England, since they are lost in 1763. In 1776, Benjamin Franklin went to Paris to get support from France. France helped the colonies in May 1776. In 6 February 1778, America and France signed The Treaty of Friendship and Trade. They also signed The Treaty of Alliance.
That treaty made England try to increase their power; they gathered the colonies in south and began the movement to attack America. They moved to Charleston, South Caroline and succeed to take the city. In July, General of America, Horatio Gates moved to Camden, South Caroline, to attack England led by General Charles Cornwallis. In early 1781, America won upon England in Cowpens, South Caroline. Then, Cornwallis moved to Virginia.
In July 1780, King of France, Louis XVI sent the expedition troops to America led by Comte Jean de Rochambeau. The army and navy of France and America fight with Cornwallis along summer to autumn. In 19 October 1781, Cornwallis surrendered in Yorktown. England decided to hold a negotiation in Paris in early 1782. Benjamin Franklin, John Adams, and John Jay were the delegation of America. In 15 April 1783, Congress agreed the last treaty, and Great Britain with the colonies signed the treaty in 3 September. This treaty is also known as Treaty of Paris that admitted the independence, freedom, and sovereignty of the thirteen colonies.        
  


      

Milk as The Perfect Food

            Everyone knows that milk has a lot of benefit for human being and animal, especially for the baby. There are mother’s milk and formulated milk, but the formulated milk is not complete as the mother’s milk . The main use of milk is provide all nutrition that the baby needs, the body of the baby feel fresh, because the baby get all nutrition from the mother’s milk. Besides that, the baby that given mother’s milk will grow optimally, the baby’s intelligence will rise, the baby become nimble, active, healthy, and has the high immunity, so the baby is not easy to fell ill. And for the mother, breast feeding the baby directly, can make low the body weight and tighten the body shape. Not only that, breast feeding can strengthen the relationship between mother and the baby. Differ with the formulated milk, it’s only as a supplement food for the baby. Formulated milk given by the baby, if the baby has already certain age and only as a supplement food.  
            Milk contains many nutritions that the baby’s body needs, such as vitamins, mineral, protein, calcium, carbohydrate, and so on. Nutritions have function for the baby’s body in growth phase, development, and health maintenance. There are four vitamins, vitamin A for the eyes health; vitamin B complex need for helping the energy metabolism and the nervous system; vitamin D for helping calcium absorption; vitamin E good for skin health; calcium for bone and teeth growth; mineral and protein for body’s regulator; and carbohydrate for giving energy to the body.
            So, milk is the perfect food for human being and animal, especially for the baby, because milk is the source of life and as the keystone. Milk has a lot of benefit for the baby, it’s contain many nutritions that baby’s body needs. And the mother’s milk better than formulated milk, because the formulated milk only as a supplement food for the baby, and it’s contain of preservative materials.