Bumi nusantara telah banyak mengalami tragedi yang memilukan
sepanjang dekade terakhir ini. Mungkin, masih tampak lekat dalam ingatan kita, peristiwa
mahadahsyat yang menimpa saudara kita di wilayah barat Indonesia, yang terjadi hampir
11 tahun yang lalu. Gempa bumi dan tsunami telah memporak-porandakan serambi
Mekah, Aceh, di hari Minggu pagi, 26 Desember 20004. Gempa bumi tersebut
terjadi kurang lebih pada pukul 8:00 WIB. Pusat gempa terletak kurang lebih 160
km sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 km. Gempa ini berkekuatan 9,3 Skala
Richter. Tak hanya guncangan yang dihasilkannya begitu dahsyat, tetapi juga
merupakan gempa yang terlama, kurang lebih selama 10 menit. Kemudian, gempa ini
disusul dengan tsunami besar, setinggi 9 meter.
Tak terbilang banyaknya korban jiwa yang ditelan dan
bangunan yang hancur lebur akibat bencana besar ini. Gempa bumi ini tercatat
tak hanya menghantam Aceh, tetapi juga melanda Pantai Timur India, Srilanka,
Thailand, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, dan Pantai Timur Afrika. Bisa dikatakan
ini merupakan tragedi dunia.
Bencana alam ini, tentu saja menjadi sebuah magnet bagi
orang-orang di seluruh dunia. Mereka, para korban, membutuhkan pertolongan yang
tidak sedikit. Mereka tak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga keluarga
dan kerabat, dan mungkin ini menjadi kesedihan yang paling sulit untuk
dipulihkan, yaitu kehilangan sanak saudara. Melihat keadaan yang seperti itu,
berbondong-bondong lah organisasi kemanusiaan dan pemerintah untuk membantu
mereka yang terkena nestapa.
ICRC #70thICRCid mempunyai kantor di Banda Aceh, sehingga
ICRC yang bekerja sama dengan PMI dapat langsung membantu masyarakat Aceh pasca
terjadinya musibah tersebut. Para relawan Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit
Merah Internasional menyalurkan 1000 terpal dan perlengkapan rumah tangga untuk
para pengungsi.
Berbagai kegiatan dan bantuan dari ICRC mengalir dalam
musibah Aceh ini. ICRC memberikan bantuan makanan dan non-makanan serta tempat
tinggal bagi pengungsi. Mereka melakukan pengamatan ke penampungan-penampungan
di Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Bireuen, Lhokseumawe, dan Kabupaten Aceh Besar.
Pengamatan ini dilanjutkan dengan penyaluran bantuan tersebut. ICRC bekerja
sama dengan PMI memberikan bantuan non-pangan kepada 24.462 rumah tangga. Mereka
juga menyalurkan bantuan makanan kepada 11.086 rumah tangga.
Tak hanya itu, ICRC menyediakan berbagai peralatan yang
dibutuhkan untuk mengevakuasi korban kepada relawan-relawan PMI, antara lain:
kantong mayat, masker, sarung tangan, sepatu karet, sekop, pakaian pelindung,
helm, alat penerangan, dan terpal plastik. Dalam evakuasi tersebut, PMI
bergotong-royong dengan TNI, POLRI, dan SAR. Mereka mengevakuasi lebih dari
20.000 jenazah di kota Banda Aceh.
Selain memberikan bantuan makanan, non-makanan, dan
peralatan evakusi, ICRC juga bekerja sama dengan pakar medis. Mereka melakukan
pemantauan terhadap rumah sakit yang masih tersisa di Banda Aceh dan fasilitas
kesehatan di tempat pengungsian. Mereka juga memberikan pasokan medis apabila
dibutuhkan, seperti: sarung tangan bedah, bahan untuk membebat, bahan-bahan
benang bedah, bahan-bahan untuk pengobatan patah tulang, paket peralatan dasar
untuk apotek, paket obat-obatan dasar untuk apotek, antibiotik, suntikan analgesik,
desinfektan, berbagai obat-obatan, dan peralatan medis. Palang Merah Norwegia
juga memberikan bantuan berupa 100 tempat tidur yang diperuntukkan bagi rumah
sakit lapangan di Banda Aceh.
Dalam bencana alam yang besar tersebut, tentunya para
pengungsi mengalami krisis air bersih. Oleh karena itu, para pakar air dan
sanitasi dari ICRC melakukan penilaian atas akses terhadap air bersih dan
kondisi sanitasi pengungsi. Mereka menyediakan air bersih dan fasilitas sanitasi.
Yang paling penting dari keseluruhan kegiatan ICRC dalam
mengatsi musibah Aceh ini adalah bagaimana organisasi kemanusiaan ini dapat
memulihkan hubungan antara korban gempa dan tsunami Aceh dengan keluarga
mereka. Dalam kegiatan ini, ICRC bekerja sama dengan PMI, menggunakan banyak
sarana seperti pertukaran Berita Palang Merah, penggunaan formulir “Saya
Selamat” dan “Saya Mencari”, penggunaan telepon satelit, membantu anak-anak
tanpa pendamping dan mempublikasikan nama mereka di media-media, serta
penggunaan website ICRC www.familylinks.org.
Berikut adalah video wawancara bersama Markus Dolder - wakil kepala ICRC delegasi Indonesia pada tahun 2002-2005 - tentang situasi Aceh setelah bencana Tsunami terjadi.
Walaupun sudah lebih dari 10 tahun bencana Aceh terjadi,
masih banyak yang memberikan bantuan terhadap mereka, terutama anak-anak yatim korban
gempa bumi dan tsunami Aceh. Salah satu perhatian yang diberikan kepada mereka datang
dari Organisasi Konferensi Islam bersama dengan PKPU. Mereka memberikan 1250
paket perlengkapan sekolah di kota Banda Aceh, Kabupaten Sabang, dan Kabupaten
Aceh Besar melalui Orphan Kafala Program. Secara khusus, program ini memang
diperuntukkan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana. Selain paket
perlengkapan sekolah, anak-anak yatim juga mengikuti training dan educational program,
health and care, serta pembinaan secara langsung.
Dari musibah yang terjadi di Aceh 10 tahun yang lalu, banyak
yang dapat kita jadikan pelajaran. Salah satunya, kita sebagai makhluk sosial sekaligus
beragama. Tak dapat dipungkiri, kita tidak bisa bertahan di dunia ini sendirian.
Dan, salah satu momen yang bisa menyadarkan kita akan hal tersebut adalah kita
atau orang lain tertimpa suatu bencana atau musibah. Maka, lahirlah rasa kasih sayang
dan kepedulian itu. Tanpa memandang perbedaan. Bukankah kita tidak akan
bertanya terlebih dahulu apa latar belakang atau agama orang yang sedang terkena
musibah, sebelum kita memberikan pertolongan kepadanya? Bukankah kita tidak
akan bertanya terlebih dahulu apa latar belakang atau agama orang yang benar-benar
sedang membutuhkan donor darah, sebelum memberikan darah kita kepadanya? Itulah
kekuatan kasih sayang.
Sumber:
Blogs.icrc.org
Tribunnews.com
Kompasiana.comYoutube.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar