Pages

Rabu, 14 Oktober 2015

ACEH DAN MEREKA

Bumi nusantara telah banyak mengalami tragedi yang memilukan sepanjang dekade terakhir ini. Mungkin, masih tampak lekat dalam ingatan kita, peristiwa mahadahsyat yang menimpa saudara kita di wilayah barat Indonesia, yang terjadi hampir 11 tahun yang lalu. Gempa bumi dan tsunami telah memporak-porandakan serambi Mekah, Aceh, di hari Minggu pagi, 26 Desember 20004. Gempa bumi tersebut terjadi kurang lebih pada pukul 8:00 WIB. Pusat gempa terletak kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 km. Gempa ini berkekuatan 9,3 Skala Richter. Tak hanya guncangan yang dihasilkannya begitu dahsyat, tetapi juga merupakan gempa yang terlama, kurang lebih selama 10 menit. Kemudian, gempa ini disusul dengan tsunami besar, setinggi 9 meter.

Tak terbilang banyaknya korban jiwa yang ditelan dan bangunan yang hancur lebur akibat bencana besar ini. Gempa bumi ini tercatat tak hanya menghantam Aceh, tetapi juga melanda Pantai Timur India, Srilanka, Thailand, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, dan Pantai Timur Afrika. Bisa dikatakan ini merupakan tragedi dunia.

Bencana alam ini, tentu saja menjadi sebuah magnet bagi orang-orang di seluruh dunia. Mereka, para korban, membutuhkan pertolongan yang tidak sedikit. Mereka tak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga keluarga dan kerabat, dan mungkin ini menjadi kesedihan yang paling sulit untuk dipulihkan, yaitu kehilangan sanak saudara. Melihat keadaan yang seperti itu, berbondong-bondong lah organisasi kemanusiaan dan pemerintah untuk membantu mereka yang terkena nestapa.

ICRC #70thICRCid mempunyai kantor di Banda Aceh, sehingga ICRC yang bekerja sama dengan PMI dapat langsung membantu masyarakat Aceh pasca terjadinya musibah tersebut. Para relawan Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional menyalurkan 1000 terpal dan perlengkapan rumah tangga untuk para pengungsi.

Berbagai kegiatan dan bantuan dari ICRC mengalir dalam musibah Aceh ini. ICRC memberikan bantuan makanan dan non-makanan serta tempat tinggal bagi pengungsi. Mereka melakukan pengamatan ke penampungan-penampungan di Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Bireuen, Lhokseumawe, dan Kabupaten Aceh Besar. Pengamatan ini dilanjutkan dengan penyaluran bantuan tersebut. ICRC bekerja sama dengan PMI memberikan bantuan non-pangan kepada 24.462 rumah tangga. Mereka juga menyalurkan bantuan makanan kepada 11.086 rumah tangga.       

Tak hanya itu, ICRC menyediakan berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban kepada relawan-relawan PMI, antara lain: kantong mayat, masker, sarung tangan, sepatu karet, sekop, pakaian pelindung, helm, alat penerangan, dan terpal plastik. Dalam evakuasi tersebut, PMI bergotong-royong dengan TNI, POLRI, dan SAR. Mereka mengevakuasi lebih dari 20.000 jenazah di kota Banda Aceh.

Selain memberikan bantuan makanan, non-makanan, dan peralatan evakusi, ICRC juga bekerja sama dengan pakar medis. Mereka melakukan pemantauan terhadap rumah sakit yang masih tersisa di Banda Aceh dan fasilitas kesehatan di tempat pengungsian. Mereka juga memberikan pasokan medis apabila dibutuhkan, seperti: sarung tangan bedah, bahan untuk membebat, bahan-bahan benang bedah, bahan-bahan untuk pengobatan patah tulang, paket peralatan dasar untuk apotek, paket obat-obatan dasar untuk apotek, antibiotik, suntikan analgesik, desinfektan, berbagai obat-obatan, dan peralatan medis. Palang Merah Norwegia juga memberikan bantuan berupa 100 tempat tidur yang diperuntukkan bagi rumah sakit lapangan di Banda Aceh.

Dalam bencana alam yang besar tersebut, tentunya para pengungsi mengalami krisis air bersih. Oleh karena itu, para pakar air dan sanitasi dari ICRC melakukan penilaian atas akses terhadap air bersih dan kondisi sanitasi pengungsi. Mereka menyediakan air bersih dan fasilitas sanitasi.

Yang paling penting dari keseluruhan kegiatan ICRC dalam mengatsi musibah Aceh ini adalah bagaimana organisasi kemanusiaan ini dapat memulihkan hubungan antara korban gempa dan tsunami Aceh dengan keluarga mereka. Dalam kegiatan ini, ICRC bekerja sama dengan PMI, menggunakan banyak sarana seperti pertukaran Berita Palang Merah, penggunaan formulir “Saya Selamat” dan “Saya Mencari”, penggunaan telepon satelit, membantu anak-anak tanpa pendamping dan mempublikasikan nama mereka di media-media, serta penggunaan website ICRC www.familylinks.org.

Berikut adalah video wawancara bersama Markus Dolder - wakil kepala ICRC delegasi Indonesia pada tahun 2002-2005 - tentang situasi Aceh setelah bencana Tsunami terjadi.



Walaupun sudah lebih dari 10 tahun bencana Aceh terjadi, masih banyak yang memberikan bantuan terhadap mereka, terutama anak-anak yatim korban gempa bumi dan tsunami Aceh. Salah satu perhatian yang diberikan kepada mereka datang dari Organisasi Konferensi Islam bersama dengan PKPU. Mereka memberikan 1250 paket perlengkapan sekolah di kota Banda Aceh, Kabupaten Sabang, dan Kabupaten Aceh Besar melalui Orphan Kafala Program. Secara khusus, program ini memang diperuntukkan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana. Selain paket perlengkapan sekolah, anak-anak yatim juga mengikuti training dan educational program, health and care, serta pembinaan secara langsung.

Dari musibah yang terjadi di Aceh 10 tahun yang lalu, banyak yang dapat kita jadikan pelajaran. Salah satunya, kita sebagai makhluk sosial sekaligus beragama. Tak dapat dipungkiri, kita tidak bisa bertahan di dunia ini sendirian. Dan, salah satu momen yang bisa menyadarkan kita akan hal tersebut adalah kita atau orang lain tertimpa suatu bencana atau musibah. Maka, lahirlah rasa kasih sayang dan kepedulian itu. Tanpa memandang perbedaan. Bukankah kita tidak akan bertanya terlebih dahulu apa latar belakang atau agama orang yang sedang terkena musibah, sebelum kita memberikan pertolongan kepadanya? Bukankah kita tidak akan bertanya terlebih dahulu apa latar belakang atau agama orang yang benar-benar sedang membutuhkan donor darah, sebelum memberikan darah kita kepadanya? Itulah kekuatan kasih sayang.

Sumber:
Blogs.icrc.org
Tribunnews.com
Kompasiana.com
Youtube.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar