Pages

Jumat, 09 Oktober 2015

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Hari Pangan Sedunia 2015
Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia.

Berbicara tentang hari pangan sedunia, kita lihat dulu sejarah singkatnya. Food and Agriculture Organization (FAO) menetapkan World Food Day melalui Resolusi PBB No. 1/1979 di Roma Italia. Hari pangan sedunia diperingati pada tanggal 16 Oktober yang juga merupakan hari lahirnya FAO. Sejak tahun 1981, seluruh negara anggota FAO termasuk Indonesia memperingati Hari Pangan Sedunia secara nasional. Hari Pangan Sedunia dijadikan momentum bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan pemahaman serta kepedulian terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Hari pangan sedunia dapat pula disandingkan dengan petani. Petani lah yang menghasilkan serta menyediakan pangan bagi kita, setiap harinya. Tak ada petani, maka tak ada pangan. Bisa kalian bayangkan bukan, betapa pentingnya peran petani-petani kita?

Coba bayangkan sejenak, jika kita tak punya bapak/ibu petani. Bagaimana nasib negara kita? Negara yang sebesar ini? Negara yang punya lebih dari 200 juta jiwa ini? Bagaimana cara kita untuk memenuhi kebutuhan pangannya, jika kita tak punya petani? Apakah kita akan terus-menerus mengimpor bahan pangan? Apakah kita hanya akan menghabiskan anggaran negara hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan kita saja? Jawabannya hanya diri kita sendiri yang tahu, sebagai warga Negara Indonesia.  

Bila kita mau menengok sebentar saja ke masa lalu negara kita, Indonesia pernah menjadi negara agraris dan maritim yang mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional, bahkan mengekspornya. Indonesia diberkahi dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sawah, hutan, lautan, Indonesia punya semua itu. Kita juga punya petani-petani yang luar biasa. Dengan diperingati hari pangan sedunia, saya berharap, Indonesia bisa bangkit lagi dan menjadi negara agraris dan maritim seperti dulu. Indonesia bisa menjadi “Macan Asia”, atau bahkan “Macan Dunia”.   

Kenyataannya, untuk saat ini, produksi pangan nasional semakin menurun, dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan penduduknya. Apa yang terjadi? Mau tak mau, kita harus mengimpor bahan pangan. Impor bahan pangan sama saja dengan mengeluarkan anggaran yang lebih besar lagi, sedangkan pangan merupakan kebutuhan pokok. Ini artinya, semakin besar kita mengimpor bahan pangan, semakin tergantung pula kita kepada negara asing. Ketergantungan kepada negara asing akan menjauhkan kita dari impian sebagai negara yang berdaulat dan mandiri.  

Produksi pangan nasional pasti berhubungan erat dengan pangan dan gizi suatu bangsa. Pangan dan gizi yang baik dan bermutu bisa menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju. Kenapa? Karena dengan ketersediaan dua hal tersebut akan menghasilkan tunas-tunas bangsa yang unggul.  

Nah, untuk itulah mari kita memberi dukungan dan apresiasi kepada petani-petani Indonesia. Petanipejuang pangan dan gizi bangsaku, sebutan itu layak bagi mereka, karena mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyediakan kebutuhan pangan bangsa ini. Selain itu, secara tidak langsung, mereka juga peduli terhadap asupan gizi anak-anak Indonesia yang kelak menjadi pelita bangsa ini. Jika hal ini dipikirkan lebih jauh lagi, betapa mulianya peran petani-petani Indonesia.

Bisakah kalian bayangkan, hidup di dunia ini tanpa makan dan minum? Itu sama halnya dengan Indonesia tanpa petani, karena petani hidup dan mati bangsaku. Tanpa mereka, kita tidak akan bisa bertahan. Tanpa mereka, kita tidak akan bersaing dan maju. Tanpa mereka, generasi muda Indonesia tidak akan bertumbuh dan berkembang.

Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana rumitnya proses sebutir nasi yang kita makan setiap harinya berada di piring kita? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana susahnya dalam merawat buah-buahan dan sayur-sayuran hingga sampai di meja makan kita? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana sulitnya membesarkan ternak untuk kita nikmati daging dan susunya? Pernahkah kalian terpikirkan bagaimana lelahnya menjaring atau menangkap ikan serta kroni-kroninya? Mungkin hanya petani yang tahu bagaimana sulitnya proses-proses tersebut. Mereka belajar bersabar. Menunggu hingga masa panen tiba. Menunggu hingga cukup besar ternak-ternaknya. Menunggu waktu yang tepat untuk melaut. Dan, dari semua proses melelahkan itu, mereka hanya meyakini satu, memberikan bahan pangan yang terbaik untuk bangsa tercinta. Untuk itulah, mereka sangat pantas diberi kehormatan sebagai petani tulangpunggung pangan dan gizi bangsaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar