![]() |
| Hari Pangan Sedunia 2015 |
Berbicara tentang hari pangan sedunia, kita lihat dulu sejarah singkatnya. Food
and Agriculture Organization (FAO) menetapkan World Food Day melalui Resolusi
PBB No. 1/1979 di Roma Italia. Hari pangan sedunia diperingati pada tanggal 16
Oktober yang juga merupakan hari lahirnya FAO. Sejak tahun 1981, seluruh negara
anggota FAO termasuk Indonesia memperingati Hari Pangan Sedunia secara
nasional. Hari Pangan Sedunia dijadikan momentum bagi masyarakat Indonesia
untuk meningkatkan pemahaman serta kepedulian terhadap pentingnya penyediaan
pangan yang cukup dan bergizi baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.
Hari pangan sedunia dapat pula disandingkan dengan petani. Petani
lah yang menghasilkan serta menyediakan pangan bagi kita, setiap harinya. Tak ada
petani, maka tak ada pangan. Bisa kalian bayangkan bukan, betapa pentingnya
peran petani-petani kita?
Coba bayangkan sejenak, jika kita tak punya bapak/ibu petani.
Bagaimana nasib negara kita? Negara yang sebesar ini? Negara yang punya lebih
dari 200 juta jiwa ini? Bagaimana cara kita untuk memenuhi kebutuhan pangannya,
jika kita tak punya petani? Apakah kita akan terus-menerus mengimpor bahan
pangan? Apakah kita hanya akan menghabiskan anggaran negara hanya untuk
memenuhi kebutuhan pangan kita saja? Jawabannya hanya diri kita sendiri yang
tahu, sebagai warga Negara Indonesia.
Bila kita mau menengok sebentar saja ke masa lalu negara kita,
Indonesia pernah menjadi negara agraris dan maritim yang mampu memenuhi kebutuhan
pangan nasional, bahkan mengekspornya. Indonesia diberkahi dengan sumber daya
alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sawah, hutan, lautan, Indonesia punya
semua itu. Kita juga punya petani-petani yang luar biasa. Dengan diperingati
hari pangan sedunia, saya berharap, Indonesia bisa bangkit lagi dan menjadi negara
agraris dan maritim seperti dulu. Indonesia bisa menjadi “Macan Asia”, atau
bahkan “Macan Dunia”.
Kenyataannya, untuk saat ini, produksi pangan nasional semakin menurun, dan
berbanding terbalik dengan pertumbuhan penduduknya. Apa yang terjadi? Mau tak
mau, kita harus mengimpor bahan pangan. Impor bahan pangan sama saja dengan
mengeluarkan anggaran yang lebih besar lagi, sedangkan pangan merupakan
kebutuhan pokok. Ini artinya, semakin besar kita mengimpor bahan pangan,
semakin tergantung pula kita kepada negara asing. Ketergantungan kepada negara asing
akan menjauhkan kita dari impian sebagai negara yang berdaulat dan mandiri.
Produksi pangan nasional pasti berhubungan erat dengan pangan dan gizi suatu
bangsa. Pangan dan
gizi yang baik dan bermutu bisa menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi
bangsa yang maju. Kenapa? Karena dengan ketersediaan dua hal tersebut akan
menghasilkan tunas-tunas bangsa yang unggul.
Nah, untuk itulah mari kita memberi dukungan dan apresiasi
kepada petani-petani Indonesia. Petanipejuang pangan dan gizi bangsaku, sebutan itu layak bagi mereka, karena
mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyediakan kebutuhan pangan bangsa ini. Selain
itu, secara tidak langsung, mereka juga peduli terhadap asupan gizi anak-anak Indonesia
yang kelak menjadi pelita bangsa ini. Jika hal ini dipikirkan lebih jauh lagi,
betapa mulianya peran petani-petani Indonesia.
Bisakah kalian bayangkan, hidup di dunia ini tanpa makan dan
minum? Itu sama halnya dengan Indonesia tanpa petani, karena petani hidup dan mati bangsaku.
Tanpa mereka, kita tidak akan bisa bertahan. Tanpa mereka, kita tidak akan
bersaing dan maju. Tanpa mereka, generasi muda Indonesia tidak akan bertumbuh
dan berkembang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar