Pages

Kamis, 08 Oktober 2015

Salah Satu Bab - History of English Language

85. Penggunaan Bahasa Prancis oleh Kalangan Atas

Berapapun jumlah orang Norman yang menghuni Inggris, sangat jelas bahwa anggota golongan yang berkuasa baru cukup berkuasa untuk terus menggunakan bahasa mereka sendiri. Ini merupakan hal yang biasa, karena mereka tidak tahu bahasa Inggris; mereka mempelajarinya secara bertahap tetapi tidak berusaha dalam politik. Dua ratus tahun setelah Penaklukan Norman, bahasa Prancis tetap digunakan dalam pergaulan kalangan atas di Inggris. Awalnya mereka yang menggunakan bahasa Prancis adalah orang-orang Norman asli, tetapi kemudian melalui perkawinan campuran dan asosiasi dengan golongan yang berkuasa orang-orang keturunan Inggris harus mempergunakan kesempatan mereka untuk mempelajari bahasa baru, sebelum muncul banyak perbedaan antara mereka yang berbahasa Prancis dan yang berbahasa Inggris tak hanya suku tetapi sebagian besar masyarakat. Bahasa rakyat tetap bahasa Inggris. Situasi menjadi baik, sekitar tahun 1300, penulis sejarah yang dikenal Robert dari Gloucester.
Sebuah persamaan yang mengandung pelajaran ke dalam karakter dua bahasa di Inggris pada periode ini dilengkapi dengan contoh bahasa Belgia saat ini. Dalam tulisan ini terdapat bahasa Flemish dan Prancis (Walloon) yang digunakan secara bersamaan. Meskipun penggunaan dua bahasa ini sedikit berhubungan dengan kondisi geografi hal ini juga untuk beberapa tingkatan yang bergantung pada kedudukan sosial dan kebudayaan. Bahasa Prancis sering digunakan oleh kalangan atas, di daerah Flemish sekalipun. Perlu diperhatikan bahwa kefasihan dalam berbahasa Prancis menjadi kurang umum di utara, terutama untuk generasi muda.

86. Keadaan yang Mengangkat kembali Penggunaan Bahasa Prancis

Faktor terpenting dalam penggunaan bahasa Prancis kembali oleh kalangan atas Inggris sampai awal abad ke-13 adalah hubungan akrab yang terus berlangsung pada tahun-tahun ini antara Inggris dan Eropa. Dari waktu Penaklukan raja-raja Inggris juga merupakan dukes Normandia. Pada akhir hidupnya William Sang Penakluk terlihat lebih dekat dengan dukedomnya daripada dengan negara yang dipimpinnya. Tak hanya dimakamkan di sana, tetapi dalam pembagian warisannya dia menyerahkan Normandia kepada anak pertamanya dan Inggris kepada William, anak keduanya. Kemudian dua daerah ini bersatu kembali di tangan Henry I. Pada pencapaian Henry II, tanah Inggris di Prancis masih diperluas lagi. Henry, pangeran Anjou, diwarisi ayahnya daerah kekuasaan Anjou dan Maine. Dengan menikahi Eleanor dari Aquitaine dia memiliki tanah yang luas di selatan sehingga ketika menjadi raja Inggris dia menguasai 2/3 Prancis.
Dalam keadaan itu bukan hal yang mengherankan perhatian bangsa Inggris tertuju pada masalah-masalah yang terjadi di Prancis. Memang, raja-raja Inggris sering menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sana. William dan anak-anaknya berada di Prancis kira-kira separuh dari pemerintahan mereka masing-masing. Tak ada raja Inggris sampai pada Edward IV (1461-1483) mencari istri di Inggris, kaecuali Henry I, dan ini merupakan hal yang biasa dalam meneruskan penggunaan bahasa Prancis di istana Inggris.
Kaum bangsawan Inggris tak sepenuhnya seorang bangsawan di Inggris sebagai seorang aristokrasi Anglo-Prancis. Hampir semua tuan tanah Inggris mempunyai tanah di Eropa, seringkali nikah kontrak, dan menghabiskan banyak waktu di Prancis. Banyak peristiwa ketika raja dan bangsawannya bertunangan dalam operasi militer dan hal ini terus berlangsung untuk mempertahankan penggunaan bahasa Prancis.

87. Sikap terhadap Bahasa Inggris

Pendapat bahwa para pendatang tidak menyukai bahasa Inggris tidak mempunyai dasar. Hal ini memang benar bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang tak tertata, bahasa orang bawahan, dan seorang uskup seperti Wulfstan mendapat penghinaan dari bangsa Norman, karena ketidaktahuannya akan semboyan masyarakat. Henry dalam pernyataan Huntington bahwa hal yang memalukan untuk disebut seorang pria Inggris merupakan pernyataan retoris yang berlebihan. Hal ini tak masuk akal untuk mengharapkan orang-orang yang dijajah tak merasakan kebencian atau bangsa Norman tak pernah angkuh atau suka menguasai. Tetapi ada juga banyak bukti saling menghargai dan kerjasama yang baik, tak masalah ada perkawinan campuran, antara bangsa Norman dan Inggris. Penulis kronik Orderic Vitalis, adalah putra dari seorang ayah berbangsa Norman dan seorang ibu berbangsa Inggris, meskipun faktanya dia menghabiskan hidupnya dari umur 10 tahun di Normandia, selalu menunjukkan pada dirinya sebagai seorang pria Inggris.
Menurut penulis kronik yang sama William Sang Penakluk berusaha untuk mempelajari bahasa Inggris pada usia 43 tahun. Tak ada yang mustahil dalam pernyataan. Tentu saja tuntutan seorang penulis abad ke-14 bahwa sang Penakluk memikirkan bagaimana menghapus bahasa “Saxon” agar bangsa Inggris dan Prancis berbicara dengan bahasa yang sama. Anak termudanya, Henry I, mengetahui beberapa bahasa Inggris. Jika raja-raja terdahulu terlihat tidak mengetahui bahasa, rendahnya pengetahuan mereka tidak dihubungkan pada tujuan tertentu. Pada periode penting—periode 1200 ke atas—sikap raja dan golongan atas terhadap bahasa Inggris digolongkan sebagai salah satu kelalaian kecil. Mereka tidak memperkuat bahasa Inggris karena kegiatan mereka di Inggris tak mengharuskannya dan perhatian mereka terus tertuju pada persoalan yang berhubungan dengan Eropa membuat bahasa Prancis lebih berguna bagi mereka.

88. Kesusasteraan Prancis di Istana Inggris

Lengkapnya bahasa Prancis di istana Inggris saat ini terlihat jelas dengan dihasilkannya kesusasteraan untuk kerajaan dan perlindungan orang bangsawan. Pada tahun pertama yang mempunyai sedikit alat pertunjukan modern, kesusasteraan memainkan peranan penting dalam kehidupan golongan orang-orang senang. Dan sangat menarik untuk mengetahui bagian kesusasteraan Prancis yang dihasilkan di Inggris dari awal abad ke-12. Kita tak cukup tahu kondisi kesusasteraan pada masa William, meskipun pengakuannya dalam pembelajaran terlihat dalam banyak penetapannya pada kedudukan gereja tinggi. Anak perempuannya Adela adalah pelindung para penyair, dan anak laki-lakinya Henry I, mendapat gelar Beauclerc, yang setidaknya menikah berturut-turut dengan dua ratu yang sangat mendukung para penyair. Istananya merupakan pusat kegiatan kesusasteraan. Philippe de Thaun menulis Bestiary, penggambaran puisi yang agak khayal tentang alam dengan berbagai binatang dan penambahan ke setiap deskripsi moral yang lebih khayal. Geoffrey Gaimar menulis History of the English, dalam sajak berbahasa Prancis, untuk Lady Custance “Ii Gentil”. Pada saat yang sama Samson de Nanteuil menuliskan 1100 baris sajak menjadi Proverbs of Solomon untuk Lady Adelaide de Conde, istri dari baron Lincolnshire. Pada pemerintahan Henry II Wace menulis Roman de Brut dan mempersembahkannya pada ratu, Eleanor dari Aquitaine. Kemudian Wace mengerjakan Roman de Rou untuk menuliskan catatan yang sama dengan dukes Normandia. Karya-karya keagamaan dan pendidikan, kehidupan orang-orang suci, kiasan-kiasan, sejarah-sejarah, dan roman dari Horn, Havelok, Tristan, dan yang lainnya terus bertambah pada abad ke-12. Hal ini menunjukkan dasar yang kuat bahwa kebudayaan Prancis diambil di tanah Inggris yang sangat penting bagian kesusasteraan dalam bahasa Prancis dapat dituliskan atau untuk Inggris, selebihnya berada di bawah perlindungan istana langsung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar