85.
Penggunaan Bahasa Prancis oleh Kalangan Atas
Berapapun
jumlah orang Norman yang menghuni Inggris,
sangat jelas bahwa anggota golongan yang berkuasa baru cukup berkuasa untuk terus
menggunakan bahasa mereka sendiri. Ini merupakan hal yang biasa, karena mereka
tidak tahu bahasa Inggris; mereka mempelajarinya secara bertahap tetapi tidak
berusaha dalam politik. Dua ratus tahun setelah Penaklukan Norman, bahasa
Prancis tetap digunakan dalam pergaulan kalangan atas di Inggris. Awalnya
mereka yang menggunakan bahasa Prancis adalah orang-orang Norman asli, tetapi
kemudian melalui perkawinan campuran dan asosiasi dengan golongan yang berkuasa
orang-orang keturunan Inggris harus mempergunakan kesempatan mereka untuk
mempelajari bahasa baru, sebelum muncul banyak perbedaan antara mereka yang
berbahasa Prancis dan yang berbahasa Inggris tak hanya suku tetapi sebagian
besar masyarakat. Bahasa rakyat tetap bahasa Inggris. Situasi menjadi baik,
sekitar tahun 1300, penulis sejarah yang dikenal Robert dari Gloucester .
Sebuah
persamaan yang mengandung pelajaran ke dalam karakter dua bahasa di Inggris
pada periode ini dilengkapi dengan contoh bahasa Belgia saat ini. Dalam tulisan
ini terdapat bahasa Flemish dan Prancis (Walloon) yang digunakan secara
bersamaan. Meskipun penggunaan dua bahasa ini sedikit berhubungan dengan
kondisi geografi hal ini juga untuk beberapa tingkatan yang bergantung pada
kedudukan sosial dan kebudayaan. Bahasa Prancis sering digunakan oleh kalangan
atas, di daerah Flemish sekalipun. Perlu diperhatikan bahwa kefasihan dalam
berbahasa Prancis menjadi kurang umum di utara, terutama untuk generasi muda.
86.
Keadaan yang Mengangkat kembali Penggunaan Bahasa Prancis
Faktor
terpenting dalam penggunaan bahasa Prancis kembali oleh kalangan atas Inggris
sampai awal abad ke-13 adalah hubungan akrab yang terus berlangsung pada
tahun-tahun ini antara Inggris dan Eropa. Dari waktu Penaklukan raja-raja
Inggris juga merupakan dukes Normandia. Pada akhir hidupnya William Sang
Penakluk terlihat lebih dekat dengan dukedomnya daripada dengan negara yang
dipimpinnya. Tak hanya dimakamkan di sana ,
tetapi dalam pembagian warisannya dia menyerahkan Normandia kepada anak pertamanya
dan Inggris kepada William, anak keduanya. Kemudian dua daerah ini bersatu
kembali di tangan Henry I. Pada pencapaian Henry II, tanah Inggris di Prancis
masih diperluas lagi. Henry, pangeran Anjou ,
diwarisi ayahnya daerah kekuasaan Anjou dan Maine . Dengan menikahi Eleanor
dari Aquitaine
dia memiliki tanah yang luas di selatan sehingga ketika menjadi raja Inggris
dia menguasai 2/3 Prancis.
Dalam
keadaan itu bukan hal yang mengherankan perhatian bangsa Inggris tertuju pada
masalah-masalah yang terjadi di Prancis. Memang, raja-raja Inggris sering
menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sana . William dan anak-anaknya berada di
Prancis kira-kira separuh dari pemerintahan mereka masing-masing. Tak ada raja
Inggris sampai pada Edward IV (1461-1483) mencari istri di Inggris, kaecuali
Henry I, dan ini merupakan hal yang biasa dalam meneruskan penggunaan bahasa
Prancis di istana Inggris.
Kaum
bangsawan Inggris tak sepenuhnya seorang bangsawan di Inggris sebagai seorang
aristokrasi Anglo-Prancis. Hampir semua tuan tanah Inggris mempunyai tanah di
Eropa, seringkali nikah kontrak, dan menghabiskan banyak waktu di Prancis. Banyak
peristiwa ketika raja dan bangsawannya bertunangan dalam operasi militer dan
hal ini terus berlangsung untuk mempertahankan penggunaan bahasa Prancis.
87.
Sikap terhadap Bahasa Inggris
Pendapat
bahwa para pendatang tidak menyukai bahasa Inggris tidak mempunyai dasar. Hal
ini memang benar bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang tak tertata, bahasa
orang bawahan, dan seorang uskup seperti Wulfstan mendapat penghinaan dari
bangsa Norman ,
karena ketidaktahuannya akan semboyan masyarakat. Henry dalam pernyataan Huntington bahwa hal yang
memalukan untuk disebut seorang pria Inggris merupakan pernyataan retoris yang berlebihan.
Hal ini tak masuk akal untuk mengharapkan orang-orang yang dijajah tak
merasakan kebencian atau bangsa Norman tak
pernah angkuh atau suka menguasai. Tetapi ada juga banyak bukti saling
menghargai dan kerjasama yang baik, tak masalah ada perkawinan campuran, antara
bangsa Norman dan Inggris. Penulis kronik
Orderic Vitalis, adalah putra dari seorang ayah berbangsa Norman dan seorang
ibu berbangsa Inggris, meskipun faktanya dia menghabiskan hidupnya dari umur 10
tahun di Normandia, selalu menunjukkan pada dirinya sebagai seorang pria
Inggris.
Menurut
penulis kronik yang sama William Sang Penakluk berusaha untuk mempelajari
bahasa Inggris pada usia 43 tahun. Tak ada yang mustahil dalam pernyataan.
Tentu saja tuntutan seorang penulis abad ke-14 bahwa sang Penakluk memikirkan bagaimana
menghapus bahasa “Saxon” agar bangsa Inggris dan Prancis berbicara dengan
bahasa yang sama. Anak termudanya, Henry I, mengetahui beberapa bahasa Inggris.
Jika raja-raja terdahulu terlihat tidak mengetahui bahasa, rendahnya
pengetahuan mereka tidak dihubungkan pada tujuan tertentu. Pada periode
penting—periode 1200 ke atas—sikap raja dan golongan atas terhadap bahasa
Inggris digolongkan sebagai salah satu kelalaian kecil. Mereka tidak memperkuat
bahasa Inggris karena kegiatan mereka di Inggris tak mengharuskannya dan
perhatian mereka terus tertuju pada persoalan yang berhubungan dengan Eropa
membuat bahasa Prancis lebih berguna bagi mereka.
88.
Kesusasteraan Prancis di Istana Inggris
Lengkapnya
bahasa Prancis di istana Inggris saat ini terlihat jelas dengan dihasilkannya
kesusasteraan untuk kerajaan dan perlindungan orang bangsawan. Pada tahun
pertama yang mempunyai sedikit alat pertunjukan modern, kesusasteraan memainkan
peranan penting dalam kehidupan golongan orang-orang senang. Dan sangat menarik
untuk mengetahui bagian kesusasteraan Prancis yang dihasilkan di Inggris dari
awal abad ke-12. Kita tak cukup tahu kondisi kesusasteraan pada masa William,
meskipun pengakuannya dalam pembelajaran terlihat dalam banyak penetapannya
pada kedudukan gereja tinggi. Anak perempuannya Adela adalah pelindung para
penyair, dan anak laki-lakinya Henry I, mendapat gelar Beauclerc, yang setidaknya
menikah berturut-turut dengan dua ratu yang sangat mendukung para penyair.
Istananya merupakan pusat kegiatan kesusasteraan. Philippe de Thaun menulis Bestiary, penggambaran puisi yang agak
khayal tentang alam dengan berbagai binatang dan penambahan ke setiap deskripsi
moral yang lebih khayal. Geoffrey Gaimar menulis History of the English, dalam sajak berbahasa Prancis, untuk Lady
Custance “Ii Gentil”. Pada saat yang sama Samson de Nanteuil menuliskan 1100
baris sajak menjadi Proverbs of Solomon
untuk Lady Adelaide de Conde, istri dari baron Lincolnshire . Pada pemerintahan Henry II Wace
menulis Roman de Brut dan
mempersembahkannya pada ratu, Eleanor dari Aquitaine . Kemudian Wace mengerjakan Roman de Rou untuk menuliskan catatan yang
sama dengan dukes Normandia. Karya-karya keagamaan dan pendidikan, kehidupan
orang-orang suci, kiasan-kiasan, sejarah-sejarah, dan roman dari Horn, Havelok,
Tristan, dan yang lainnya terus bertambah pada abad ke-12. Hal ini menunjukkan
dasar yang kuat bahwa kebudayaan Prancis diambil di tanah Inggris yang sangat
penting bagian kesusasteraan dalam bahasa Prancis dapat dituliskan atau untuk
Inggris, selebihnya berada di bawah perlindungan istana langsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar